Memahami Esensi Cahaya Dalam Fotografi

Memahami Esensi Cahaya Dalam Fotografi
Palouse hills at sunrise by Nae Chantaravisoot on 500px.com
 

Cahaya dalam fotografi adalah faktor kunci. Tanpa cahaya, tidak akan ada fotografi. Kenyataannya, fotografi memiliki arti “melukis dengan cahaya”. Cahaya memiliki kualitas, kuantitas, warna dan arah yang menampilkan bentuk, tekstur dan karakter pada suatu karya foto.

Sumber cahaya yang paling umum tersedia adalah ambient light berupa sinar matahari dan lampu penerangan. Kita memaksimalkan penggunaan ambient light untuk memperoleh hasil terbaik, dengan terlebih dahulu mengenali beberapa karakter cahaya.

Kuantitas dan Kualitas Cahaya

Menjadi fotografer berarti menjadi pemburu cahaya. Cahaya yang kita abadikan memiliki kualitas dan kuantitas. Dua faktor itulah yang perlu kita perhatikan saat memotret.
Kuantitas cahaya adalah kekuatan cahaya, atau lebih sederhana dikenal dengan istilah terang (intensitas tinggi) dan redup (intensitas rendah atau dikenal juga sebagai lowlight). Kuantitas cahaya mempengaruhi cara kita mengatur exposure pada kamera.
Dalam fotografi dikenal dengan istilah “kualitas cahaya” yang membagi pencahayaan menjadi dua bagian yaitu cahaya keras (hardlight) dan cahaya lembut (softlight).

Memahami Esensi Cahaya Dalam Fotografi
Foto diambil pada saat tengah hari

Posisi sumber cahaya berperan besar pada kualitas cahaya. Misalnya, saat matahari berada di atas kepala di tengah hari (seperti foto di atas), bayangan akan hilang dan foto akan terlihat datar dan terlalu terang. Karena itu lebih baik hindari memotret di tengah (siang) hari terutama saat memotret landscape. “Jam-jam keemasan (golden hours)”, setelah matahari terbit (sunrise) dan sebelum matahari terbenam (sunset) memiliki kualitas cahaya yang paling baik. Sinar matahari tak hanya lebih lembut dan tersebar oleh sudut yang miring melalui lapisan atmosfer, tapi juga memberi gradasi warna yang terlihat hangat.

Memahami Esensi Cahaya Dalam Fotografi
Foto pada saat sunrise

Kualitas cahaya juga mempengaruhi exposure. Kondisi cahaya yang kuat menambah tingkat kontras, yang mungkin melebihi dinamic range sensor, sehingga lebih sulit untuk menjaga detail pada foto.

Warna Cahaya

Sumber cahaya memiliki karakter spektrum warna yang berbeda-beda, yang dalam fotografi dikenal dengan istilah “Color Temperature” (baca kembali tentang “white balance”). Satuan yang digunakan adalah Kelvin. sinar matahari siang sering digunakan sebagai acuan dan disebut  memiliki color temperature “Daylight”. Sumber cahaya kemerahan seperti lampu bohlam disebut sebagai cahaya yang “warm” (hangat), sedangkan sumber cahaya yang kebiruan seperti warna langit disebut sebagai “cool” (dingin).

9 Alasan Untuk Memiliki Lensa Prime 50mm

Jika anda memiliki budget tambahan, lensa yang satu ini sangat layak untuk dibeli. Lensa ini secara focal length sebenarnya sangat mirip dengan dengan lensa kit 18-55mm yang dizoom maksimal. Lensa ini disebut jaga dengan “Nifty Fifty”. Untuk kamera APS-C, lensa prime 50mm adalah sebuah lensa tele pendek sementara untuk kamera full frame, lensa ini adalah lensa standar.

lensa prime 50mm

Alasan untuk memilih lensa 50mmm

Jika anda belum pernah menggunakan lensa ini, pasti akan timbul pertanyaan “Kenapa saya musti membeli lensa yang tidak bisa dizoom dan memiliki focal length yang tanggung? Apalagi jika saya sudah memiliki lensa kit yang dimana focal length 50mm sudah termasuk didalamnya”.

Dan inilah alasan kenapa kita musti memiliki lensa nifty fifty ini:

1. Bagus untuk memotret low light

Lensa prime 50mm memiliki aperture maksimal f/1.8 atau f/1.4 yang memungkinkan kita memotret dalam kondisi low light, disaat lensa lain sudah menyerah. Sebagai contoh Canon EF 50mm f/1.4 dengan aperture maksimal f/1.4 sementara lensa kit 18-55mm memiliki aperture maksimal f/5.6, yang artinya lensa prime 50mm f/1.4 memberikan 4 stop cahaya lebih dibandingkan dengan lensa kit tadi. Hal ini memungkinkan kita untuk menggunakan shutter speed yang lebih cepat untuk menghindari guncangan, atau dengan ISO rendah.

2. Murah

Lensa prime 50mm adalah lensa dengan kualitas fantastis dengan harga yang relatif terjangkau dibanding lensa lain. Anda bisa membeli lensa prime 50mm f/1.8 baik Canon atau Nikon dengan harga sekitar Rp. 1 juta.

3. Ringan

Hampir semua lensa prime 50mm memiliki bobot yang ringan dibandingkan dengan lensa jenis lainnya. Bobot adalah faktor yang krusial saat anda harus lebih banyak berjalan saat memotret atau saat anda melakukan traveling. Inilah alasan street photographer lebih banyak menggunakan lensa ini saat melakukan pemotretan.

4. Bokeh yang dahsyat

Karena aperture yang lebar f/1.4 atau f/1.8, lensa prime 50mm ini menghasilkan foto bokeh yang sangat bagus.

lensa prime 50mm

5. Super tajam

Kualitas gambar yang dihasilkan oleh lensa prime 50mm biasanya sangat bagus. Seperti yang disebutkan di poin 1 karena mempunyai aperture yang lebar memungkinkan untuk memotret dengan shutter speed cepat untuk menghindari kamera goyang, sehingga lensa ini membantu untuk menghasilkan foto yang lebih tajam dan juga anda tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menghasilkan foto yang bagus. Bila dibandingkan dengan lensa zoom, lensa ini mempunyai desain dan susunan optik di dalamnya yang relatif lebih simpel, sehingga menghindarkan chromatic aberration.

6. Serbaguna

Lensa prime 50mm ini juga cocok bagi anda yang suka memotret jalanan (street photography), tidak terlalu lebar dan tidak terlalu panjang, dan sangat cepat. Pada kamera APS-C dengan crop factor 1.5 lensa prime memiliki panjang focal efektif 75mm, artinya anda sudah memiliki lensa tele pendek yang ideal untuk memotret portrait. Dengan panjang focal ini cukup untuk menghilangkan distorsi pada wajah subjek anda.

7. Bagus untuk traveling

Karena ringan dan cepat, lensa 50mm ini cocok bagi anda yang suka traveling. Lensa ini bisa melengkapi lensa wide 17-35mm dan lensa zoom 70-200 untuk mengcover seluruh focal length ketika melakukan traveling.

8. Bisa disulap menjadi lensa makro

Bila anda ingin memotret makro dengan budget rendah, anda bisa mengubah lensa ini menjadi lensa makro tanpa harus membeli lensa makro. Cukup dengan memamfaatkan extension tube atau anda memasangnya terbalik dengan memamfaatkan reverse ring, anda bisa menyulap lensa prime 50mm menjadi lensa makro dengan kualitas gambar yang baik.

9. Membantu melatih keahlian fotografi

Sudah jelas kalau lensa prime adalah lensa fixed atau lensa yang tidak bisa dizoom. Untuk mengubah framing kita harus menggerakan badan dan kaki, tanpa kita sadari ini melatih kemampuan komposisi kita. Menggunakan lensa prime memberikan tantangan kepada kita untuk berfikir lebih tentang komposisi sebelum kita menekan shutter yang pada akhirnya membuat foto kita jadi lebih baik.

Fotografi Cityscape: Tips Memotret Jejak Cahaya Lampu Dengan Long Exposure

tips memotret jejak cahaya (light trail) dengan long exposure
Westminster’s Rainbow by Mattia Zambaldi

Pemandangan urban dan langit kota memiliki kualitas istimewa bila difoto di malam hari atau saat cahaya kurang (low light). Pada kota-kota yang sibuk biasanya akan ada gerakan dalam gambar, seperti kendaraan atau orang yang sedang bergerak. Karena lamanya shutter speed yang digunakan, gerakan ini akan berbayang dan menghasilkan efek efek yang menarik. Misalnya, jejak cahaya (light trail) yang ditinggalkan lampu depan dan lampu belakan mobil akan menghasilkan efek visual yang menarik dan menambah dimensi ekstra pada foto. Waktu yang terbaik untuk memotret cityscape pada malam hari adalah saat jam di antara matahari terbenam dan sebelum malam tiba (blue hour). 

Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas peralatan apa saja yang diperlukan untuk memotret di malam hari, maka sekarang kita akan membahas tips-tips menggunakan long exposure untuk mendapatkan jejak cahaya (light trail) di malam hari, antara lain :

1. Temukan spot yang bagus. 

Carilah cahaya dari lampu jalanan, mobil atau sunset yang akan menjadi daya tarik. Sebaiknya keluarlah setelah hujan untuk mendapatkan refleksi dan bias menarik.

2. Gunakanlah tripod dan kabel/remote release.

Tripod sangat membantu mendapatkan beragam kemungkinan foto yang unik. Selama anda tidak cemas dengan pergerakan objek, anda bebas menggunakan ISO rendah, aperture sempit, dan shutter speed lamban.

3. Gunakan modus manual.

Pilih ISO terendah (misalnya 100) dan gunakan modus manual. Atur shutter speed pada 10 detik. Cobalah memotret beberapa kali dan lihat hasilnya di LCD, cek histogram untuk memeriksa exposure-nya.

4. Cek tampilan jejak cahaya di LCD.

Apakah jejak cahayanya cukup panjang? Jika tidak, gunakan shutter speed lebih lambat (misalnya 20 detik) dan potret ulang. Cobalah hingga didapat hasil yang memuaskan.

5. Cek exposure.

Apakah fotonya terlalu terang (histogram cenderung ke sebelah kanan) atau terlalu gelap? Gunakan aperture yang lebih sempit (angka f besar) apabila fotonya terlalu terang, dan gunakan aperture lebih lebar (angka f kecil) apabila fotonya terlalu terang, dan potretlah ulang. Cobalah terus hingga didapat exposure yang tepat.

19 Tips Komposisi Memotret Foto Part 2

Pada bagian sebelumnya kita telah membahas 10 tips komposisi untuk memaksimalkan foto anda, dan sekarang kita akan melanjutkan 9 tips komposisi lagi….

11. Break the Pattern

Melanjutkan bagian sebelumnya mengenai perulangan, ada teknik lain yang sering diterapkan untuk menghasilkan komposisi yang lebih menarik. Yang perlu anda lakukan adalah ‘merusak’ pola dengan menampilkan unsur yang berbeda. Gunakan unsur yang tetap mengikuti pattern, tapi memiliki fitur yang membuatnya terlihat mencolok. Pada umumnya fotografer menggunakan warna sebagai pemecah pattern. Atur komposisi sebisa mungkin, semisal dengan meletakkan elemen pemecah tersebut pada titik/garis rule of third.

Tips komposisi Break the Pattern
Passion Lady by Ryuichi Noguchi on 500px.com

12. Mamfaatkan Pantulan

Penggunaan pantulan (reflection) dapat memberikan efek yang unik pada sebuah komposisi dan memberikan nilai lebih pada foto. Dengan penambahan pantulan pada komposisi, sebuah foto bisa berubah menjadi lebih berkesan. Selain dengan air, anda bisa menggunakan kaca, jendela, cermin, permukaan logam dan sebagainya untuk memberikan efek reflektif. Perhatikan arah serta bentuk pantulan, dan gabungkan dalam komposisi foto yang anda buat.

 
Tips Komposisi Mamfaatkan Pantulan
on the train home by Marco Maioriello on 500px.com

13. Mamfaatkan Bayangan

Adanya arah cahaya akan membentuk bayangan. Dari sudut pandang komposisi, anda bisa memamfaatkan bayangan untuk melengkapi subjek dan memperkuat foto yang dihasilkan. Selain sebagai pelengkap, anda juga bisa menjadikan bayangan sebagai objek utama pemotretan dan menghasilkan foto cara pandang yang berbeda.

 
Tips Komposisi Memotret Foto
untitled by Ryuichi Noguchi on 500px.com

14. Memamfaatkan Zoom: Wide vs Tele

Penggunaan focal length yang berbeda akan menghasilkan lebar sudut pandang yang berbeda. Anda bisa menggunakan teknik ini untuk mengatur proporsi background pada komposisi. Lensa wide angle memberi jarak yang renggang antarobjek dalam foto, membuat background terlihat jauh dan kecil, serta efek distorsi. Lensa tele merapatkan objek-objek pada foto, membuat background terlihat dekat dan besar, serta efek kompresi.

15. Memamfaatkan Distorsi

Terkadang sebuah foto menjadi lebih menarik karena menampilkan pemandangan dalam proporsi yang tidak biasanya terlihat. Distorsi sering kali digunakan untuk memberikan efek pada foto dengan menerapkan lensa sudut lebar atau lensa fish eye.

 
Tips Komposisi Mamfaatkan distorsi
warp speed by Jo Williams on 500px.com

16. DoF Tipis dan Selective Focusing

Depth of Field (DoF) yang memiliki arti kedalaman ruang, adalah ruang antara titik terdekat dan titik terjauh pada gambar yang masih terlihat fokus. Objek lain yang berada di luar DoF akan menjadi blur, kondisi yang blur atau sering disebut ‘bokeh’ ini akan semakin dominan pada DoF yang tipis. Anda bisa memamfaatkan DoF yang tipis untuk teknik selective focusing, yaitu mengisolasi POI dangan membatasi objek yang fokus.

 
Tips Komposisi Memotret Foto
orchid 01 by Wei-san ooi on 500px.com

17. DoF Tebal dan Hyperfocal Distance

Foto landscape dan arsitektur umumnya lebih disukai jika seluruh pemandangan terlihat fokus, dari objek yang berada di depan (foreground) sampai objek di belakang (background). Untuk mencapai kondisi ini anda bisa menerapkan teknik “Hyperfocal Distance”. Istilah “hyeperfocal distance” adalah jarak fokus dimana objek pada semua jarak terlihat tajam.

Tips Komposisi Memotret Foto
Kraichgau Dawn by Michael Breitung on 500px.com

18. Mamfaatkan Warna 

Salah satu alat bantu yang bisa digunakan saat menyusun komposisi adalah warna. Dengan memamfaatkan penempatan warna yang tepat, anda bisa mengarahkan perhatian permirsa, menambahkan nuansa tertentu pada foto, atau bahkan menggunakan warna sebagai komposisi utama.
Tips Komposisi Memotret Foto
Wall of Books by Lejla Tabak on 500px.com

19. Skala

Mengabadikan sebuah pemandangan terkadang masih menyisakan sebuah pertanyaan, seberapa besar ukuran objek pada wujud aslinya. Untuk memberikan sentuhan skala ukuran pada objek, anda bisa menggunakan objek/subjek lain yang memiliki ukuran normal yang bisa dibayangkan.

Tips Komposisi Memotret Foto
Caught in The Middle by Jesse Shanks on 500px.com

Teknik paling efektif yang sering diterapkan pada foto pemandangan adalah dengan menambahkan orang pada komposisi. Funsi orang disini bukan sebagai subjek utama, tetapi untuk melengkapi komposisi dan memberikan alur cerita.

Memahami Konsep Exposure

Memahami konsep exposure adalah sangat penting untuk mendapatkan gambar yang diinginkan. Banyak hal yang dapat mempengaruhi exposure, misalnya waktu pengambilan gambar, panjang fokal, gerakan si subjek, sumber cahaya dan filter yang digunakan.
konsep exposure
 Photo by Ross Hoddinott

Apa saja yang membentuk konsep exposure

Exposure adalah kombinasi dari lamanya waktu dan banyaknya cahaya yang diterima oleh sensor kamera. Exposure ditentukan oleh 3 hal, yaitu shutter speed (kecepatan rana), aperture lensa (bukaan diafragma) dan tingkat sensitifitas ISO.
segitiga exposure
Shutter speed (kecepatan rana) adalah lamanya shutter kamera dalam keadaan terbuka. Hal ini menentukan jumlah cahaya yang masuk dalam kamera dan mengenai sensor. Shutter speed dapat berdurasi dari 1/8000 detik sampai dengan 30 detik. Shutter speed sangat mempengaruhi bagaimana subjek yang bergerak tertangkap kamera. Shutter time yang cepat akan seolah membekukan gerakan, sementara shutter time yang lambat akan membuat subjek yang terlihat kabur dan membuat kesan subjek sedang bergerak.
Aperture lensa (f/stop) adalah ukuran dari besarnya bukaan diafrafma lensa yang dapat diubah-ubah, mempengaruhi banyaknya cahaya yang masuk mengenai sensor. Prinsipnya hampir sama dengan mata manusia. Pupil mata kita akan mengecil dalam lingkungan yang terang karena membutuhkan lebih sedikit cahaya untuk melihat detail benda, sementara dalam cahaya suram pupil mata kita akan membesar karena membutuhkan lebih banyak cahaya. Aperture diukur dengan f/stop, umumnya tingkat f/stop dimulai dari f/1,4 sampai dengan f/22. Aperture yang besar (ditunjukkan dengan angka f yang kecil) membuat cahaya mengenai sensor lebih cepat, artinya waktu exposure yang dibutuhkan lebih sedikit. Aperture yang kecil (angka f besar) membuat cahaya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengenai sensor, berarti waktu exposure yang dibutuhkan lebih panjang.
ISO menunjukkan tingkat sensitifitas cahaya yang dimiliki oleh sensor.  Nilai ISO yang rendah lebih tidak sensitif terhadap cahaya yang artinya membutuhkan waktu exposure yang lebih lama. Sebaliknya ISO yang lebih tinggi lebih sensitif terhadap cahaya dan membutuhkan waktu exposure yang lebih sedikit.

Bagaimana cara mendapatkan exposure yang tepat

Untuk mendapatkan exposure yang akurat secara konsisten, sangatlah penting untuk benar-benar memahami 3 variabel ini dan hubungannya satu sama lain. Ketika anda memiliki kombinasi yang tepat antara aperture, shutter speed dan sensitifitas ISO – perubahan disalah satunya akan serta merta saling mengubah satu sama lainnya. Ketiga variabel inilah yang membentuk dasar-dasar tentang konsep exposure.