Mengenal Arah Cahaya Dalam Fotografi

Arah cahaya adalah karekter cahaya yang penting, yang membantu menentukan tampilan subjek saat tertangkap dalam foto yang berbentuk dua dimensi. Ada empat kategori : cahaya dari depan, cahaya dari belakang, cahaya dari samping dan cahaya dari atas. Jika dikombinasikan dengan subjek atau pemandangan yang sesuai, masing-masing tipe pencahayaan akan menciptakan hasil foto yang menarik dan berbeda.

Cahaya Dari Depan (Frontlight)

Cahaya depan paling mudah ditangani. Cahaya ini menyinari bagian depan subjek secara merata, menghilangkan bayangan yang tampak. Meskipun pencahayaan tipe ini baik untuk memotret subjek, namun seringkali hasilnya datar dan kurang kontras. Karena itu lebih baik abaikan saja nasihat lama untuk ‘selalu memotret dengan matahari di belakangmu’.  
Mengenal Arah Cahaya Dalam Fotografi, Frontlight
Zelda by rhonda mcclure on 500px.com

Cahaya Dari Atas (Toplight)

Cahaya dari atas adalah tipe cahaya yang anda temui ditengah hari, saat matahari tepat berada di atas kepala, yang sebaiknya dihindari para fotografer. Cahaya ini dapat membuat subjek terlihat datar dan, kecuali subjek tersebut horizontal, tidak bagus untuk menonjolkan tekstur atau bentuk. Tergantung dari situasinya, cahaya dari atas dapat menimbulkan area dimana tingkat kontras tinggi dengan bayangan yang tidak diinginkan, meskipun hal ini dapat dihilangkan dengan fill-in flash atau reflektor.

Mengenal Arah Cahaya Dalam Fotografi, Toplight
sunny village by Ilya @IPhotoN on 500px.com

Cahaya Dari Samping (Sidelight)

Cahaya dari samping adalah salah satu bentuk pencahayaan yang terbaik dan banyak dipergunakan yang membantu menambahkan kedalaman pada subjek dan memberikan efek tiga dimensi. Untuk Alasan inilah banyak fotografer outdoor memilih untuk memotret diawal dan akhir hari. Cahaya dari samping menonjolkan bentuk dan mempertegas garis meskipun seberapa banyaknya tergantung dari subjek itu sendiri dan sudut pengambilan dan intensitas sumber cahaya. Namun hal ini dapat menjadi masalah jika kontras cahayanya lebih besar dari dinamic range sensor entah shadow atau highlight atau kadang keduanya tampil tanpa detail.


Mengenal Arah Cahaya Dalam Fotografi, Sidelight
Golden Sidelight by Arno Gourdol on 500px.com

Cahaya Dari Belakang (Backlight)

Jangan memotret searah dengan arah cahaya matahari. Meskipun benar bahwa anda tidak boleh mengarahkan lensa menghadap sumber cahaya yang kuat, dalam praktiknya, cahaya dari belakang adalah salah satu bentuk pencahayaan yang paling dramatis. Namun juga paling sulit diukur cahayanya. Jadi, untuk memastikan anda mendapat exposure yang benar disarankan untuk menggunakan setting exposure bracket. Dua bentuk yang paling umum adalah rim lighting dan silhouetting. Rim ligthting adalah dimana masih ada detail yang tergambar pada bagian muka samping subjek dan lingkaran keemasan mengitarinya. Silhouetting adalah bentuk pencahayaan dari belakang yang paling ekstrim, dimana subjek terekam tanpa detail atau warna. Benda yang tembus cahaya seperti daun, dapat sangat menarik saat diterangi dari belakang, membuat detail dan warna sangat menonjol.


Mengenal Arah Cahaya Dalam Fotografi, Backlight
light in the forest by akihiko endo on 500px.com

Memahami Mode Metering Kamera DSLR

Memahami Mode Metering Kamera DSLR – Metering adalah cara mengukur kondisi cahaya saat merekam foto untuk mendapatkan exposure yang tepat. Anda sudah mempelajari shutter speed, aperture serta mode exposure. Tapi sebelum anda menentukan itu semua, ada satu hal yang harus dilakukan yaitu mengukur tingkat kecerahan objek. Dari sinilah pengukuran exposure dimulai.
Mode metering kamera dslr

Memahami Mode Metering Kamera DSLR – Tipe metering

Ada 2 tipe metering yaitu, TTL (throught the lens) metering yang tertanam dalam kamera (built in), dan metering melalui alat terpisah (light meter genggam). Sistem metering yang dimiliki kamera digital saat ini sangat canggih dan akurat, namun dalam keadaan cahaya yang tidak biasa dan kontras dapat juga membuat kesalahan.

Throught the lens (TTL) metering adalah otak dari kamera digital yang menentukan kombinasi shutter speed dan aperture berdasarkan ISO yang digunakan dan cahaya yang ada. Sistem TTL metering mengukur pantulan cahaya yang masuk ke lensa. Karenanya, tidak seperti light meter yang terpisah, TTL metering secara otomatis menyesuaikan diri dengan faktor eksternal seperti filter yang terpasang atau memotret gambar yang diperbesar.
Kamera mengkalkulasi exposure berdasarkan pola metering yang digunakan untuk mengukur cahaya yang mengenai sensor. DSLR memiliki rangkaian pilihan pola metering, seperti multi segment, centre weighted (fokus ditengah) atau spot metering – yang masing-masing dirancang untuk mengukur cahaya dengan cara yang berbeda. Pola metering pada kamera digital saat ini dirancang untuk meminimalisir kesalahan exposure. Penting untuk memahami masing-masing metode mana yang paling baik untuk objek yang sedang anda foto.

Memahami Mode Metering Kamera DSLR – Macam- macam TTL metering

Multi Segment Metering

Tipe ini menyajikan rasio sukses yang besar bagi fotografer. Biasanya setting ini merupakan setting default kamera karena dapat diandalkan dalam berbagai kondisi cahaya. Tipe metering ini mengukur cahaya dari berbagai area dari suatu frame gambar kemudian mengkalkulasinya secara keseluruhan.
Mode metering kamera dslr - multi segment metering
Metering tipe ini memiliki nama yang berbeda misalnya evaluative untuk Canon dan matrix untuk Nikon. Multi segment metering sangat efektif terutama untuk foto landscape dan objek yang bernuansa mid-tone, dan range terang-gelapnya berada pada dinamic range kamera. Sistem ini tidak terlalu berguna jika anda ingin merekam  satu area spesifik dari gambar seperti siluet atau objek yang membelakangi cahaya. Multi segment metering sangat efektif jika subjek mid-tone seperti gambar persawahan di atas.

Centre Weighted Metering

Sistem ini bekerja dengan memukul rata semua cahaya yang jatuh pada seluruh frame, namun dengan penekanan pada bagian tengah frame. Sekitar 75 % dari pembacaan cahaya didasarkan dari lingkaran tengah, dapat terlihat pada viewfinder. Centre weighted metering bekerja berdasarkan teori bahwa objek utama biasanya terletak ditengah frame. Karenanya sistem ini cocok untuk foto portrait atau situasi dimana objek memenuhi sebagian besar ruang dari frame.
Mode metering kamera dslr - centre weighted metering
Sistem metering centre weighted menekankan pada cahaya yang jatuh ditengah frame dan dapat diandalkan untuk memotret objek yang memenuhi frame seperti foto close up bunga mawar ini.

Spot dan Partial Metering 

keduanya adalah jenis yang paling akurat dari TTL metering. kedua sistem ini mengkalkulasi keseluruhan exposure hanya sebagian kecil dari frame, tanpa dipengaruhi oleh cahaya dibagian lain. Spot metering biasanya hanya membaca 1-4 % dari lingkaran tengah frame dan partial metering membaca area sedikit lebih besar biasanya 10-14%.
Bulu burung hantu yang putih sangat kontras dengan background yang hitam pekat, gambar jadi sulit untuk diukur dengan tepat. Jadi, digunakan spot metering untuk mengukur dari kepala burung hantu.
Spot dan partial metering memberikan lebih banyak kontrol pada tingkat akurasi exposure daripada sistem metering yang lain. Namun juga memerlukan usaha yang lebih besar untuk mengarahkan metering spot secara langsung menghadap area dari gambar yang diinginkan. Dengan hanya mengukur cahaya dari sebagian kecil dari keseluruhan frame, anda juga bisa mendapatkan pembacaan yang benar dari objek kecil dan spesifik dari gambar. Ini sangat berguna terutama saat berhadapan dengan kondisi gelap-terangnya cahaya berganti-ganti atau sangat kontras seperti jika backgroundnya jauh lebih terang dari objek karena cahaya berasal dari belakang (backlit).
Meskipun lingkaran spot metering berada ditengan viewfinder, pada beberapa model fotografer dapat memilih off centre spot yang digunakan saat objek tidak ditengah. Jika kameramu tidak memiliki pilihan ini, ambil pembacaan spot metering diarea yang diinginkan kemudian lakukan auto exposure lock (AE-L) sebelum mengganti komposisi gambar yang akan diambil.
Mode metering kamera DSLR - spot dan partial metering

Spot dan partial metering – mode metering kamera DSLR

Mengenal Reflektor Dalam Fotografi

Apapun objeknya, kita membutuhkan cahaya untuk merekam foto. Reflektor pada prinsipnya adalah alat bantuan untuk memberikan cahaya di area yang diinginkan. Reflektor memberi kemampuan untuk memantulkan cahaya yanga ada, baik alami maupun artifisial, ke objek, sehingga anda bisa mengubah cara cahaya menerangi objek. Reflektor harus diposisikan secara manual agar cahaya mengarah pada area yang dituju, memberikan cahaya tambahan pada objek dan menghilangkan bayangan yang terlalu kuat.
 
reflektor

Ukuran dan warna reflektor

Reflektor ditawarkan dalam berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari ukuran 30 cm sampai dengan 120 cm, tapi umumnya berbentuk lingkaran dan persegi. Reflektor menggunakan materi reflektif, biasanya dalam warna putih, emas dan perak, untuk menghasilkan efek yang berbeda. Segian reflektor dilengkapi dengan pegangan atau bisa dilipat untuk memudahkan penyimpanan, sementara yang lain berukuran besar dan susah untuk dipegang. Anda bahkan bisa membuat reflektor sendiri dari karton putih.

Cara memilih reflektor

Bagaimana memilih reflektor? Tergantung pada tipe fotografi yang anda geluti dan seberapa sering anda menggunakannya. Kalau hanya fotogafi biasa yang sesekali memotret portrait, sebaiknya belilah reflektor pop-up berbentuk lingkaran kecil yang memiliki sisi berwarna putih daan perak. Reflektor bisa dibeli dengan berbagai pembungkus, sehingga anda bisa memiliki warna putih, perak dan emas. Reflektor lebih besar biasanya akan memberikan penyebaran cahaya yang lebih lembut, tetapi sulit untuk dibawa dan dipegang.
 
Dengan menggunakan reflektor, intensitas dan kualitas cahaya dapat diubah. Anda dapat dengan mudah menyesuaikan intensitas cahaya yang direfleksikan dengan menjauhkan atau mendekatkan pada objek. Namun, hindari menaruhnya terlalu dekat, kalau tidak gambar akan terlihat tidak alami.

Menggunakan reflektor berarti memberikan cahaya lebih pada objek yang anda potret, dan hal ini tentunya mempengaruhi exposure. Karena itu, ingatlah untuk mengukur cahaya yang terpantul. Jika anda tidak melakukannya, maka foto mungkin akan menjadi ter-overexposure.

Apa itu Fotografi Long Exposure?

Fotografi Long Exposure
Salt by Ti on 500pc.com

Apakah artinya long exposure? 

Ketika anda memulai fotografi, tujuan utamanya adalah merekam foto yang terekspos dengan benar menggunakan kamera yang disangga tangan. Tapi ketika keterampilan itu mulai berkembang, anda akan menemukan bahwa beragam hasil kreatif dapat didapati ketika exposure kamera – periode waktu ketika shutter terbuka sehingga cahaya mencapai sensor – dipanjangkan.

Apakah kesulitan dari long exposure? Kesulitan yang paling nyata dari long exposure adalah bisa menahan kamera cukup stabil dan menghindari resiko guncangan kamera, dimana anda menginginkan ada objek tetap tampak jelas, dan ada juga yang terliah kabur. Kalau shutter speed selambat 1/30 detik, kemungkinan besar terjadi guncangan kamera, ketika exposure memanjang hingga beberapa detik, guncangan kamera pada dasarnya tidak bisa dihindari jika disangga dengan tangan.

Kapan menggunakan long exposure? 

Pada kondisi cahaya rendah, seperti matahari terbit atau tenggelam, anda mungkin hampir tidak punya pilihan lain selain menggunakan long exposure. Ketika ISO memungkinkan untuk dinaikkan demi memperbaiki shutter speed, cara ini bukanlah solusi terbaik. Karena itu, memasang kamera pada tripod dan membiarkan kamera mengekspos selama beberepa detik pada ISO rendah tidak bisa dihindari. Teknik – teknik long exposure menjadi sangat populer, dan banyak fotografer yang menggunakan filter penghalang cahaya (filtter ND), sehingga dapat merekam exposure panjang pada kondisi cahaya terang.

Mengapa merekam long exposure? 

Alasan murni untuk efek kreatif pada hasil foto. Ketika exposure berlangsung selama beberapa detik atau menit, semua objek yang bergerak dalam pemandangan menjadi terlihat kabur. Tingkat keburamannya akan tergantung pada panjang exposure. Anda akan melihat air yang bergerak tampak seperti susu, awan akan tamapk seperti coretan, atau kerumunan orang di jalan akan terlihat buram. Meski banyak fotografer yang menyukai efek ini, tapi ada pula yang tidak menyukainya. Anda harus memperhatikan agar efeknya tidak berlebihan. Kunci utamanya adalah memadukan objek yang jelas dan tidak bergerak dalam komposisi dengan elemen yang bergerak.

Cara Memaksimalkan Kestabilan Kamera Dengan Tripod Dan Shutter Cable

Seringkali pengambilan foto membutuhkan shutter speed yang sangat lambat, atau sering juga disebut slow shutter speed atau long exposure. Waktu yang dibutuhkan bisa berkisar dari 1/10 detik hingga 30 detik atau bahkkan lebih. Pada kondisi ini, memotret secara handheld sudah tidak mungkin lagi dilakukan karena akan muncul guncangan (shake) pada foto.

Cara Memaksimalkan Kestabilan Kamera Dengan Tripod Dan Shutter Cable
Untuk mengatasinya, anda bisa menggunakan tripod atau shutter cable. Tripod berguna untuk menahan kamera tanpa menimbulkan pergerakan, berbeda dengan tangan kita yang secara tidak disadari terpengaruh oleh gerakan pernafasan dan detak jantung. Alat pelengkap berupa shutter cable akan meningkatkan kestabilan dengan menghindarkan kamera dari getaran saat anda menekan tombol shutter.
Sebagai catatan tambahan, kamera DSLR menggunakan mekanisme mirror yang sebenarnya juga menimbulkan guncangan pada saat mengambil gambar terutama pada long exposure. Anda bisa menggunakan fitur mirror lock atau shutter delay. Silakan cek lebih detail pada buku manual kamera anda.