Category Archives: Fotografi Landscape

Apa itu Fotografi Long Exposure?

Fotografi Long Exposure
Salt by Ti on 500pc.com

Apakah artinya long exposure? 

Ketika anda memulai fotografi, tujuan utamanya adalah merekam foto yang terekspos dengan benar menggunakan kamera yang disangga tangan. Tapi ketika keterampilan itu mulai berkembang, anda akan menemukan bahwa beragam hasil kreatif dapat didapati ketika exposure kamera – periode waktu ketika shutter terbuka sehingga cahaya mencapai sensor – dipanjangkan.

Apakah kesulitan dari long exposure? Kesulitan yang paling nyata dari long exposure adalah bisa menahan kamera cukup stabil dan menghindari resiko guncangan kamera, dimana anda menginginkan ada objek tetap tampak jelas, dan ada juga yang terliah kabur. Kalau shutter speed selambat 1/30 detik, kemungkinan besar terjadi guncangan kamera, ketika exposure memanjang hingga beberapa detik, guncangan kamera pada dasarnya tidak bisa dihindari jika disangga dengan tangan.

Kapan menggunakan long exposure? 

Pada kondisi cahaya rendah, seperti matahari terbit atau tenggelam, anda mungkin hampir tidak punya pilihan lain selain menggunakan long exposure. Ketika ISO memungkinkan untuk dinaikkan demi memperbaiki shutter speed, cara ini bukanlah solusi terbaik. Karena itu, memasang kamera pada tripod dan membiarkan kamera mengekspos selama beberepa detik pada ISO rendah tidak bisa dihindari. Teknik – teknik long exposure menjadi sangat populer, dan banyak fotografer yang menggunakan filter penghalang cahaya (filtter ND), sehingga dapat merekam exposure panjang pada kondisi cahaya terang.

Mengapa merekam long exposure? 

Alasan murni untuk efek kreatif pada hasil foto. Ketika exposure berlangsung selama beberapa detik atau menit, semua objek yang bergerak dalam pemandangan menjadi terlihat kabur. Tingkat keburamannya akan tergantung pada panjang exposure. Anda akan melihat air yang bergerak tampak seperti susu, awan akan tamapk seperti coretan, atau kerumunan orang di jalan akan terlihat buram. Meski banyak fotografer yang menyukai efek ini, tapi ada pula yang tidak menyukainya. Anda harus memperhatikan agar efeknya tidak berlebihan. Kunci utamanya adalah memadukan objek yang jelas dan tidak bergerak dalam komposisi dengan elemen yang bergerak.

Mengenal Teknik HDR (High Dynamic Range)

Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, sensor kamera tidak secanggih mata kita yang memiliki dynamic range yang sangat luas sehingga dapat membedakan area yang gelap dan terang dengan kecepatan dan akurasi yang tinggi. Sensor kamera masih memiliki keterbatasan dalam melihat area terang dan gelap yang sangat kontras pada sebuah foto pemandangan. Misalnya, pada saat menikmati pemandangan sunset atau sunrise, warna dan corak langit yang bervariasi akan terlihat indah bila dilihat langsung oleh mata kita,  sedangkan pada kamera digital, meskipun kamera yang canggih sekalipun belum mampu merekam detail secara penuh dari pemandangan tersebut. Sehingga pada beberapa bagian foto akan terlihat terlalu terang dan sebagian lagi akan terlihat terlalu gelap.

foto HDR
 Foto underexposure dan overexposure yang sudah digabung

Teknik HDR untuk memperluas dynamic range

Sehingga untuk mengatasi foto pemandangan yang mempunyai kontras yang tinggi antara area gelap dan terang digunakanlah teknik HDR (selain cara yang pernah dibahas sebelumnya untuk memaksimalkan dynamic range). Secara prinsip HDR menggunakan beberap foto dengan exposure yang berbeda (mirip dengan teknik foto montage), tetapi dengan jumlah foto yang lebih banyak dan dengan proses layering yang terotomasi.

Foto underexposure
teknik HDR
 Foto overexposure

Apabila foto yang kita peroleh tidak memiliki area highlight clipping terlalu banyak maka kita bisa menggunakan foto yang dihasilkan dari 1 RAW saja. Cukup bedakan exposure-nya saja saat pengolahan RAW untuk menghasilkan 3-5 foto dengan exposure yang berbeda. Keuntungan dari teknik ini adalah tidak ada masalah re-allignment foto karena sebenarnya fotonya identik hanya beda exposure-nya saja.

Sedangkan apabila kondisi di lapangan terlalu ekstrim maka kita bisa memotret 3-5 foto dengan exposure yang berbeda dengan langsung menggunakan EV yang berbeda saja di lapangan, tidak perlu menggunakan mode Manual. Dengan cara ini, kita menghindari terjadinya highlight clipping, dimana foto sudah tidak memiliki informasi detail sama sekali. Keruguiannya tentunya ada kemungkinan turunnya ketajaman hasil akhir karena re-allignment (contoh seperti pada area ombak yang berbeda, sehingga saat disatukan tidak tajam).

Pemotretan yang menggunakan teknik HDR

Umumnya HDR digunakan untuk pemotretan arsitektur. Tetapi landscape juga bisa menggunakan teknik ini asalkan tidak terlalu berlebihan (sehingga tampak tidak natural). Salah satu triknya adalah menggunakan foto yang selisih exposurenya tidak terlalu jauh. Sebagai rule of thumb gunakanlah 3-5 foto dengan jarak 1/3 sampai dengan 1/2 stop saja.

Saat memotret HDR, kita wajib menggunakan tripod atau memastikan komposisi dan kamera tidak berubah. Hal ini karena kamera akan mengambil minimal dua foto (yang satu terang, satu gelap) kemudian kedua foto tersebut akan digabungkan menjadi satu. Dengan demikian hasil foto akhir memiliki detail yang paling lengkap. Saat memotret HDR, pastikan mode yang digunakan adalah Aperture Priority atau Manual, sehingga ruang tajam tidak berbeda. White Balance yang mengatur warna harusnya juga jangan AWB (Auto), tapi ditentukan sesuai sumber cahaya yang ada, misalnya Daylight atau simbol matahari.

Untuk menggabungkan foto – foto HDR tersebut dapat dilakukan dengan bantuan software. Ada beberapa software yang bisa kita gunakan, seperti Photomatix dan Adobe Photoshop.

Tips Memaksimalkan Dynamic Range Dalam Fotografi Landscape

Tips Memaksimalkan Dynamic Range Dalam Fotografi Landscape
Sunset at Malin Head by Ronan Mclaughlin on flickr.com

Untuk memaksimalkan dynamic range kamera, terutama saat memotret landscape, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan, yaitu :

  1. Gunakanlah filter neutral density graduated (ND Grad – akan dibahas selanjutnya mengenai filter), yang memiliki beberapa ukuran untuk mengimbangi kontrasnya langit yang cerah dengan foreground yang lebih gelap.
  2. Memotretlah dengan format RAW. Foto dengan format RAW menjaga dynamic range dari sensor, sementara JPEG akan ‘memotong’ shadow dan highlight.
  3. Gunakan kamera dengan kemampuan dynamic range yang tinggi. Kamera sendiri memiliki batas kemampuan dynamic range-nya. Menggunakan kamera dengan kemampuan tangkap dynamic range lebih luas tentunya membantu kita memaksimalkan dynamic range yang kita peroleh. Berikut beberapa kamera yang memiliki dynamic range tinggi, antara lain : Nikon D800, Nikon D600, Sony SLT Alpha 99, Snoy NEX 7,  Canon EOS 6d, Canon EOS 5d MkII, Canon EOS 5d MkIII (selengkapnya dapat dilihat di http://www.dxomark.com/).
  4. Memotretlah dengan ISO rendah, karena ISO rendah lebih berhati-hati dalam hal noise maka ISO rendah umumnya mampu menangkap lebih akurat area shadow. Dengan demikian, ISO rendah akan memiliki dynamic range lebih baik dibanding dengan ISO tinggi.
  5. Photo montage – semi HDR. Salah satu teknik paling sederhana untuk meningkatkan dynamic range adalah dengan menggabungkan 2 foto dengan exposure berbeda yang dihasilkan dari 1 RAW file. Jadi caranya adalah foto pemandangan dengan kondisi agak underexposure (bisa gunakan EV – 1). Setelah file RAW diproseskan menghasilkan 2 file TIFF/JPEG. Satu dengan kondisi overexposure sehingga area shadow (foreground) terang. Satu lagi underexposure, sehingga area highlight (langit) memiliki exposure yang tepat. Gabungkan kedua foto tersebut menggunakan layer masking. Gunakan foto under exposed untuk area langit, dan foto over exposed untuk area foreground.
  6. Teknik HDR. Teknik yang lebih kompleks adalah menggunakan software untuk melakukan high dynamic range (HDR) fotografi. Teknik ini memungkinkan kita memperoleh dynamic range yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan kamera digital yang ada (akan dibahas selanjutnya dalam teknik HDR).

    Tips Memotret Landscape Di Bawah Sinar Bulan

    Artikel kali ini membahas tentang bagaimana memotret landscape di bawah sinar bulan. Pemandangan landscape di bawah sinar bulan dan bintang-bintang akan memberikan sentuhan magis pada foto anda.

    landscape cahaya bulan, long exposure, nightscape photography

    Dengan menggunakan teknik long exposure, anda dapat menangkap setiap adegan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang anda.
    Pilih lokasi yang tepat yang jauh dari cahaya jalanan kota. Temukan objek menarik untuk menangkap landscape di bawah sinar bulan seperti bebatuan besar atau bangunan tua. Pastikan memotret pada saat bulan berada pada titik paling terang, atau tiga jam setelah bulan muncul untuk hasil terbaik. Dan, memotretlah dalam kondisi langit bersih, tidak mendung, karena jika jika anda memotret dalam kondisi langit mendung tidak akan memberikan hasil yang baik.
    Untuk memastikan bulan berada pada posisi terbaik, anda bisa menggunakan aplikasi The Photographer’s Ephemeris yang dapat diunduh untuk secara gratis untuk versi desktop, sedangkan untuk versi android dan ios perlu ditebus dengan harga $4.99.

    landscape cahaya bulan, long exposure, nightscape photography

    Cara setting kamera untuk landscape sinar bulan

    Untuk memotret landscape di bawah sinar bulan, disarankan memotret dengan menggunakan format file raw karena memiliki lebih banyak fleksibelitas pada tahap editing. Jika anda tidak memotret dengan format raw, anda harus lebih akurat untuk menyetting waktu exposure, dan direkomendasikan untuk mengatur white balance pada Tungsten atau pada 3200K untuk meningkatkan efek cahaya bulan.

    1. Persiapan

    Sangat penting untuk melakukan persiapan sebelum anda menuju lokasi memotret. Tentukan lokasi yang tepat dan gunakan aplikasi The Photographer’s Ephemeirs untuk memastikan waktu bulan pada posisi yang tepat untuk menerangi objek anda.

    2. Set the scene

    Pasang kamera pada tripod, pastikan kamera terpasang kuat agar tidak ada gerakan. Atur komposisi objek anda menggunakan komposisi rule of third. Gunakan lensa wide angle dan rendahkan posisinya untuk mendapatkan foreground.
     
    landscape cahaya bulan, long exposure, nightscape photography

    3. Fokuskan ke infinity

    Menggunakan autofocus dalam gelap akan sangat sulit. Jadi, gunakanlah fokus manual dan putarlah cincin fokus sampai infinity. Ini untuk memastikan frame fokus dari depan sampai ke belakang.
    landscape cahaya bulan, long exposure, nightscape photography

    4. Gunakan mode manual

    Atur kamera DLSR anda pada mode manual dan setting shutter speed pada ‘Bulb’. Hal ini memungkinkan anda untuk membuka dan menutup shutter secara manual. Atur aperture pada f/8 dan ISO antara 200 sampai 800. Semakin rendah ISO, sensor anda kurang sensitif terhadap cahaya dan anda memerlukan waktu exposure yang lebih panjang.

    landscape cahaya bulan, long exposure, nightscape photography

    5. Take a Shot

    Gunakan remote shutter release untuk mengambil gambar. Meskipun anda belum mempunyai waktu exposure yang akurat, anda harus memiliki gambaran tentang berapa lama anda akan membuka shutter. Pada shot percobaan, coba atur shutter pada hitungan menit dan lihat apa yang anda dapatkan.

    landscape cahaya bulan, long exposure, nightscape photography

    6. Cek histogram

    Zoom untuk memeriksa fokus apakah foreground terlihat tajam. Periksa histogram, apabila grafik cenderung ke sebelah kiri karena banyak bayangan dan tonal gelap (foto underexposure), maka naikkan ISO. Jangan pilih shutter speed lebih lambat lagi karena pada exposure yang lebih panjang, jejak cahaya bintang yang panjang akan ikut terekam.

    landscape cahaya bulan, long exposure, nightscape photography

    Tips mengurangi noise

    Jika waktu exposure anda terlalu lama, anda bisa menggunakan fitur long exposure noise reduction pada kamera anda untuk mengurangi noise. Ini akan menggandakan waktu exposure anda untuk menangkap gambar, tetapi akan membuat perbedaan yang cukup besar untuk kualitas foto anda.

    Memahami Teknik Hyperfocal Distance Dalam Fotografi Landscape

    Pada pemotretan landscape dan arsitektur, umumnya objek yang ada di foreground dan background dimasukkan dalam satu frame yang sama dan diinginkan agar seluruh pemandangan terlihat fokus dari depan sampai ke belakang. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan kesan mendalam pada foto, sehingga foto akan terlihat 3 dimensi. Dengan penggunaan aperture yang sempit seperti f/11, f/16 atau f/22 akan membantu proses ini, karena pada aperture sempit ini ruang tajam cenderung meluas (baca kembali tentang aperture dan DoF).

    Apa itu teknik hyperfocal distance?

    Bagi fotografer lansdscape, ketajaman di semua area foto adalah sangat penting, mereka tidak ingin ada area yang tidak tajam dalam foto. Tetapi, seringkali foreground yang kita masukkan ke dalam frame berjarak tidak lebih dari 20 sampai 30 cm di depan lensa. Hal ini akan menuntut pemilihan titik fokus yang cermat.
    teknik hyperfocal distance
    Foto jembatan di atas kita gunakan sebagai contoh, gambar diambil dengan Canon EOS550d dengan focal length 17mm dan aperture f/11 (sebagai catatan perhitungan depth of field dan hyperfocal distance bergantung pada jenis sensor, focal length dan aperture yang digunakan).
    Umumnya kita melakukan focusing di infinity (yang dimaksud adalah kita mengarahkan titik fokus pada objek di kejauhan/horizon lalu melakukan focusing). Dengan melakukan itu kita memperoleh ruang tajam (DoF) mulai dari jarak 0,81 meter sampai dengan infinity. Artinya, semua benda yang berada di dalam cakupan 0,81 meter di depan kamera sampai dengan horizon langit akan tajam. Lalu bagaimana dengan rumput yang berjarak 0,5 meter di depan kamera dan kebetulan masuk dalam frame? Tentunya tidak akan tajam karena sudah berada di luar ruang tajam.
    Harap dipahami bahwa blur disini buka karea shake pada kamera (baik karena handheld pada kondisi slow shutter, maupun karena goyang akibat tripod bergerak karena tersenggol, dll). Blur disini tetap muncul walaupun kondisi lain sudah sempurna. Blur ini semata-mata karena objek berada di luar jangkauan ruang tajam.
    Pada kondisi inilah kita menggunakan teknik hyperfocal. Teknik ini pada intinya memilih objek pada jarak tertentu untuk dijadikan titik fokus. Dengan memilih objek pada jarak tertentu ini, kita dapat memaksimalkan ruang tajam. Untuk bisa menghitung jarak hyperfocal kita membutuhkan DOF Calculator, teknik ini bergantung pada jenis bodi kamera yang digunakan, focal length dan aperture. Lakukan perhitungan di rumah terlebih dahulu, jangan melakukan perhitungan disaat kita ingin memotret.

    Cara menggunakan teknik hyperfocal

    Bagaimana cara menggunakan teknik hyperfocal? Pertama kunjungi laman DOF Master Calculator untuk melakukan perhitungan secara online, atau aplikasi ini juga bisa didownload secara gratis untuk perangkat Iphone dan Android.
    dof calculator
    Masukkan jenis kamera, focal length, dan aperture yang akan digunakan. Masukkan jarak fokus pada subjek distance. Lalu calculate. Silakan cek Near Limit yang akan anda peroleh dari kombinasi kamera, focal length, aperture dan jarak fokus (subject distance) tersebut. Itu adalah jarak terdekat yang masih masuk ruang tajam. Sedangkan Far Limit adalah jarak terjauh yang masih tajam. Berdasarkan hasil perhitungan DoF Calculator akan diperoleh jarak hyperfocal (hyperfocal distance). Nah, pada jarak hyperfocal inilah kita boleh melakukan focusing untuk memperoleh ruang tajam yang lebih luas dari foreground sampai infinity.