Category Archives: Fotografi Pemula

Memahami Aperture Dan Depth Of Field Pada Kamera

Aperture adalah lebar bukaan lensa (bukaan diafragma), yang menentukan banyaknya cahaya yang diteruskan oleh lensa dan ditangkap oleh sensor. Penulisan dan ukuran yang dipakai adalah f/ sekian, umumnya tingkat f/stop dimulai dari f/1.4 sampai dengan f/22, sebagai contoh penulisan f/4, berarti lensa terbuka dengan diameter sebesar 1/4 dari panjang focal (focal length).
memahami aperture dan depth of field

Aperture terhadap penerimaan cahaya

Bukaan lensa berkorelasi dengan cahaya yang ditangkap oleh sensor. Pada saat digunakan aperture lebar (semisal f/2), diafragma pada lensa akan terbuka lebar, dan cahaya yang ditangkap sensor lebih banyak. Sedangkan pada aperture yang lebih sempit (seperti f/4), diafragma lensa terbuka lebih sempit, dan cahaya yang ditangkap sensor menjadi lebih sedikit. Pada contoh ini, jumlah cahaya yang ditangkap pada f/2 adalah 4 kali terangnya dibanding f/4.

Efek pengaturan aperture

Efek samping pengaturan aperture adalah depth of field (DoF). Semakin sempit aperture (angka f/besar) maka semakin luas bidang tajam pada foto. Sebaliknya, semakin lebar aperture (angka f/kecil) maka semakin tipis pula ketajaman foto, dan biasanya muncul banyak blur di depan atau di belakang fokus (foreground dan background). Selain aperture, DoF dipengaruhi juga oleh focal length – semakin tele maka semakin sempit DoF-nya, serta jarak antara lensa – titik yang difokuskan – dan backgroundnya.
efek aperture kebar f/3.2
Efek Aperture Lebar f/3.2
efek aperture sempit f/11
Efek Aperture Sempit f/11

Memahami Acuan Shutter Speed Pada Pemotretan Handheld

Penggunaan shutter speed yang terlalu lambat akan menyebabkan gambar yang kabur atau goyang. Untuk itu, ada acuan umum yang digunakan untuk kecepatan terendah yang bisa digunakan pada pemotretan handheld (kamera ditahan tangan, bukan tripod atau alat bantu lainnya).
focal length lensa 
Shutter speed acuan untuk pemotretan handheld adalah sebagai berikut:
1. Kamera DSLR full frame, shutter speed minimal : 1/focal length. Contoh pada focal length 85mm, maka speed minimal : 1/85s.

2. Kamera DSLR APSC, shutter speed minimal : 1/(1.5 x focal length). Contoh pada focal length 50mm, maka speed minimal : 1/75s.

3. Kamera DSLR Micro Four Third, shutter speed minimal : 1/(2 x focal length). Contoh pada focal length 42mm, maka speed minimal : 1/84s.

4. Kamera saku (compact), shutter speed minimal : 1/(25 x zoom). Contoh pada zoom 5x, maka speed minimal : 1/125s.

Jika kamera atau lensa anda memiliki fitur Images Stabilizer, anda bisa menggunakan shutter speed yang lebih pelan dari acuan di atas. Umumnya berkisar 1-2 stop, atau setara dengan 2 sampai 4 kali shutter speed acuan.

RAW vs JPEG : Format File Foto Digital

Format file foto digital memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas foto, ukuran dan banyaknya memori yang tersimpan dikartu memori dan harddisk komputer. Sebagian besar kamera digital memberikan dua pilihan format file, JPEG atau RAW.
Format file foto digital : Rawvs Jpeg

Jenis format file foto digital

Format file foto digital : RAW

File RAW adalah tipe file lossless (tidak ada data yang hilang) yang sering  kali dianggap sebagai film negatifnya kamera digital. Tidak seperti dalam Jpeg, parameter pemotretan tidak diberlakukan saat memotret  foto, tetapi disimpan dalam parameter set eksternal – dan diakses jika file RAW tersebut ditampilkan. Singkatnya, gambar tersebut adalah data yang belum diproses. Setelah didownload, file Raw harus diproses menggunakan software  pengolah RAW seperti Adobe Camera RAW, Ligthroom, dan lainnya. Pada tahap inilah anda dapat memperbaiki dan mengatur  parameter pemotretan seperti nilai exposure, white balance, level, sharpening, colour, dan saturation secara mudah dan cepat – biasanya melalui serangkaian slider atau tool post processing yang serupa. Setelah beberapa klik saja, foto RAW akan siap untuk disimpan dalam tipe file pilihan anda.
RAW adalah tipe file yang fleksibel dan memilki kualitas gambar yang paling tinggi. Oleh karena itu banyak dipilih oleh fotografer. Tipe file ini memang memiliki banyak keuntungan, namun kekurangannya adalah  ukuran filenya besar, sehingga memakan banyak memori pada kartu memori atau harddisk. Serta memakan banyak waktu, baik selama pemotretan (mengurangi kecepatan kamera dalam mode Burst) maupun selama pengolahan dikomputer.

Format file foto digital : JPEG

JPEG adalah tipe file lossy, jadi sebagian data akan hilang saat gambar dikompresi. Parameter pemotretan yang dipilih sebelumnya, seperti white balance dan nilai exposure digunakan saat gambar berada dalam kamera. Karena itu, setelah file ditransfer ke kartu memori, foto sudah siap cetak atau langsung digunakan setelah didownload. JPEG adalah pilihan ideal untuk fotografer yang perlu membuat hasil akhir dengan cepat tanpa banyak repot. Namun, file ini jauh lebih tidak fleksibel dan lebih sulit untuk diperbaiki atau diubah parameter pemotretannya saat gambar diproses. Jadi, jika anda membuat kesalahan teknik saat memotret, anda tidak dapat menyelamatkan foto sebaik anda jika anda menggunakan RAW saat memotret.
JPEG adalah format file yang paling mudah digunakan dan sangat populer. Jika tingkat kompresi rendah, kualitas gambar tidak akan terlalu terpengaruh, dan karena ukuran filenya lebih kecil, lebih banyak gambar dapat tersimpan dalam kartu memori dan menyimpan lebih mudah. Namun setiap kali JPEG disimpan ulang, ada data yang hilang. Hal ini harus diperhitungkan jika anda ingin merencanakan untuk memanipulasi gambar nantinya.
Format file foto digital : raw vs jpeg
Perbandingan format file foto digital  RAW dan JPEG

Memahami Mode Exposure Kamera DSLR

Memahami Mode Exposure Kamera DSLR – Kamera DSLR  memiliki serangkaian pilihan mode exposure dan masing-masing memberikan pengguna level kontrol yang berbeda. Banyak kamera memiliki sejumlah mode yang telah diprogram sebelumnya, didesain untuk mengoptimalkan setting untuk kondisi atau subjek yang spesifik. Namun banyak fotografer yang lebih memilih untuk tergantung pada “4 inti”, yaitu Program, Aperture Priority, Shutter Priority dan Manual. Keempatnya sering kali disebut “mode kreatif” dan memberikan tingkat kontrol exposure yang lebih tinggi.
Memahami mode exposure kamera DSLR

Mode Exposure Kamera DSLR – Mode exposure semi auto

Programmed Auto (P)

Adalah mode yang sepenuhnya otomatis. Kamera yang menentukan kombinasi aperture dan shutter speed, dan fotografer hanya perlu berkonsentrasi pada komposisi gambar. Sekarang ini DSLR sangat canggih sehingga mode ini dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil yang ter-exposed dengan benar pada sebagian besar situasi. Namun karena kamera sepenuhnya mengontrol exposure, mode ini menahan kreatifitas dan interpretasi si fotografer. Karena itu programmed auto (P) lebih baik dipakai untuk pemotretan standar saja.

Shutter Priority (S atau Tv)

Dalam shutter prority, fotografer mengatur shutter speed kamera secara manual sementara kamera memilih aperture yang sesuai untuk menghasilkan kombinasi exposure yang benar. Mode ini berguna untuk menentukan tampilan gerakan subjek. Misalnya jika anda ingin membuat blur gerakan si subjek, maka pilihlah shutter speed yang lambat. Selanjutnya jika anda ingin membekukan gerakan subjek pilihlah shutter speed yang cepat.

Aperture Priority (A atau Av)

Ini adalah mode yang paling populer. Aperture priority pada prinsipnya serupa dengan shutter priority, namun bekerja dengan cara kebalikannya. Anda memilih besaran aperture secara manual, sementara kamera secara otomatis memilih shutter speed yang sesuai. F stop yang dipilih akan menentukan Depth of Field (DoF), semakin kecil aperturenya semakin besar DoF-nya, atau sebaliknya. Karena itu mode ini memberikan kontrol penuh pada depth of field.

Mode Exposure Kamera DSLR – Modus Manual (M)

Mode manual mengesampingkan setting otomatis kamera. Anda yang sepenuhnya menentukan tingkat aperture dan shutter speed. Ini adalah mode yang paling fleksibel dan banyak digemari oleh para profesional. Dengan adanya mode manual ini, fotografer dapat dengan cepat dan dengan mudah mengganti setting yang disarankan kamera. Misalnya dalam kondisi yang sangat terang, gelap atau kontras sistem metering kamera DSLR dapat tertipu tapi dengan mode manual mudah untuk memperbaikinya. Atau jika anda ingin mengabaikan setting yang direkomendasikan kamera dan ingin melakukan pencahayaan secara kreatif.

Sebagai tambahan dari “4 inti” mode exposure, sebagian besar kamera DSLR memiliki program yang menyesuaikan setting dengan subjeknya. Program ini sering kali disebut dengan mode Basic dan dikembangkan untuk menyesuaikan setting dengan satu tipe fotografi. Mode-mode ini digambarkan dengan simbol-simbol bukan huruf. Mode ini secara otomatis menentukan aperture dan shutter speed sesuai dengan subjek foto. Sayangnya mode exposure kamera DSLR ini membatasi akses terhadap pengaturan lain dan tidak disarankan penggunaannya.

Memahami Sensitivitas ISO Pada Kamera Digital

Apa Itu Sensitivitas ISO? Dalam fotografi, ISO digunakan untuk menentukan sensitivitas film kamera atau sensor kamera. Sensitivitas penting artinya karena akan menentukan jumlah cahaya yang dibutuhkan dan berapa lama shutter harus terbuka untuk merekam foto. Sensitivitas ISO rendah artinya sensor kamera membutuhkan exposure lebih panjang atau lebih banyak cahaya. Sensitivitas ISO lebih tinggi memiliki efek sebaliknya, artinya sensor membutuhkan lebih sedikit cahaya atau perlu diexpose dalam waktu yang lebih singkat untuk merekam foto.

Cara mengontrol sensitivitas ISO

Bagaimana cara mengontrol ISO? Mudah saja. Hanya perlu menekan tombol bertanda ISO dan putar tombol putar kamera untuk menelusuri rentang sensitivitas ISO, tetapi ini tidak dapat dilakukan pada mode Automatic.
Apa itu sensitivitas ISO
Ada berapakah pengaturan ISO? Umumnya, kamera digital menawarkan rentang ISO standard dari ISO 100 sampai 12800. Nilai lebih rendah merepresentasikan sensivitas lebih rendah dan nilai lebih tinggi menunjukkan sensivitas lebih tinggi.
Setiap kali ISO dikalikan 2 atau 1/2 merepresentasikan 1 stop exposure. Misalnya, perpindahan dari ISO 100 ke ISO 200 menaikkan sensivitas 1 stop, sementara berganti dari ISO 1600 ke ISO 100 menurunkan sensivitas 4 stop. Hal ini penting untuk mengetahui exposure. Jika ISO, aperture, atau shutter speed dinaikkan 1 stop, satu dari dua pengaturan lainnya perlu diturunkan 1 stop untuk mempertahankan exposure yang sama.
Penjelasan exposurenya adalah seperti ini, misalkan ISO 100 memberikan pembacaan exposure 1/5 detik pada f/2.8, menaikkan sensivitas ISO menjadi 1600 (peningkatan exposure 4 stop) memungkinkan shutter speed 1/80 detik pada f/2.8 (penurunan exposure 4 stop). Tingkat exposure sama, tapi shutter speed lebih cepat cenderung memberikan hasil tajam, meski tanpa tripod atau flash.

Pengaruh dari pengaturan sensitivitas ISO

Efek samping dari penggunaan  sensitivitas ISO tinggi adalah akan terjadi penurunan detail, dan muncul gangguan pada gambar seperti beras tumpah atau ketombe yang dikenal sebagai ‘noise’ atau terkadang juga disebut ‘grain’.