Category Archives: Kamera

Memahami Exposure Compensation

Memahami exposure compensation – Seperti pernah disampaikan pada artikel sebelumnya, sistem metering kamera hampir tidak mungkin salah. Sistem ini dikalibrasikan untuk menghasilkan exposure seimbang, tetapi pemandangan yang terang atau gelap dapat mengelabuinya sehingga menghasilkan foto underexposure (terlalu gelap) atau overexposure (terlalu terang). Fungsi exposure compensation kamera memberikan pengguna kesempatan untuk mengatasi masalah ini, atau mudahnya membuat foto sedikit lebih terang atau lebih gelap kalau dianggap lebih sesuai dengan objek atau selera anda.
Memahami exposure compensation
Pengaturan exposure yang diubah ketika menggunakan exposure compensation ditentukan oleh mode exposure yang sedang dipilih. Pada mode aperture priority, aperture yang dipilih tidak berubah, sehingga shutter speed-lah yang dinaikkan atau diturunkan. Pada mode shutter priority, nilai aperture-lah yang diubah untuk memberikan hasil lebih terang atau lebih gelap. ISO juga berubah jika diposisikan pada auto ISO.

Kapan saat menggunakan exposure compensation

Kapan saya menggunakan exposure compensation? Exposure compensation dapat diaplikasikan pada mode Aperture priority, Shutter priority dan mode Program. Exposure compensation juga diukur dalam stop.

Kontrol exposure compensation

Di mana letak tombol exposure compensation? Kontrol ini berada dimenu perekaman kamera atau pada layar kontrol. Tekan tombol ‘+/-‘ dan putar tombol putar kamera ke kiri atau ke kanan untuk melakukan penyesuaian. Jika bergerak ke arah ‘+’, area yang diukur akan menjadi lebih terang, dan jika bergerak ke arah sebaliknya, area akan menjadi lebih gelap. Jika di tengah, area yang diukur akan akan diterjemahkan sebagai nilai tonal sedang (mid tone).
Cara setting exposure compensation
Cara setting exposure compensation

Review : Kamera Olympus Stylus 1S

Kamera Olympus Stylus 1S

Spesifikasi Kamera Olympus Stylus 1S

Review : Kamera Olympus Stylus 1S – Pabrikan kamera Olympus baru-baru ini mengeluarkan produk kamera compact terbarunya yaitu Olympus stylus 1S yang memiliki sensor 12MP1/1.7″ BSI Cmos, lensa 28-300mm F2.8, dan viewfinder elektronik 1,44 juta titik. Olympus Stylus 1S merupakan penerus dari produk sebelumnya yaitu Olympus Stylus 1, yang juga memiliki spesifikasi serupa seperti di atas . Namun sebagai penerusnya, beberapa fitur baru serta beberapa perbaikan dan peningkatan, telah disematkan pada Olympus Stylus 1S.
Kamera Olympus Stylus 1S

Fitur Kamera Olympus Stylus 1S

Beberapa fitur baru yang ada pada Olympus Stylus 1S adalah modus Small AF Target yang memungkinkan anda untuk memfokuskan lebih akurat pada setiap titik tertentu. Selain itu, juga ada fitur Step Zoom. Dengan fitur ini, anda dapat mengeset sembilan posisi zoom sebelum memotret sehingga memberikan keleluasaan bagi fotografer dalam melakukan zooming saat mengambil foto. Selain itu, pada bagian body kamera Olympus Stylus 1S juga dilakukan beberapa penyesuaian seperti mendesain ulang grip.

Selain beberapa fitur di atas, Olympus Stylus 1S juga memiliki mode Super Macro untuk memotret objek sangat dekat sampai dengan 5cm dari lensa. Juga disediakan BLS-50 Lithium-ion yang memberikan kapasitas yang lebih banyak dalam memotert dibandingkan kamera pendahulunya, Stylus 1. Olympus Stylus 1S juga mewariskan kontrol fisik dari jajaran kamera Olympus OM-D untuk memudahkan dalam memotret foto. Terdapat built-in Wi-Fi yang dapat dihubungkan ke smartphone dengan menggunakan aplikasi. Selain berguna untuk menyimpan gambar yang ada dikamera ke smartphone, aplikasi ini juga dapat digunakan sebagai remote control yang dapat mengaturkamera dengan berbagai mode dan pengaturan dan bahkan memotret melalui smartphone.
Kamera Olympus Stylus 1S
Kamera Olympus Stylus 1S

Mengenal Ukuran Sensor Kamera dan Crop Factor

Mengenal ukuran sensor kamera dan crop factor – Bagian utama dari sebuah kamera digital adalah sensor digital. Alat ini digunakan untuk menggantikan klise atau negatif film yang dulunya digunakan pada kamera analog, dan untuk menangkap gambar dan mengubahnya menjadi sinyal digital. Informasi berupa sinyal digital ini selanjutnya diproses oleh chip kamera dan diterjemahkan sebagai file gambar.

Pada saat berbicara mengenai sensor kamera, umumnya yang pertama terbayang adalah Megapixel atau resolusi sensor. Tapi sebelum membahas besaran resolusi ini, terlebih dahulu kita bahas mengenai dimensi fisik sensor yang sangat berpengaruh pada kualitas detail gambar.

Ukuran sensor kamera

Ada beberapa jenis ukuran fisik sensor sesuai desain kamera. Pada ilustrasi di bawah ditampilkan urutan luasan sensor yang umum digunakan, mulai dari sensor full frame, APS-C, kamera four third, sensor 1″, sensor 1/2.3″ yang sering digunakan untuk kamera saku, dan ukuran sensor untuk HP.

Perbandingan ukuran sensor kamera

Sensor full frame umumnya digunakan pada kamera DSLR high end, seperti Canon 5D Mark III atau Nikon D800. Sedangkan sensor crop (APS-C, atau DX umum digunakan pada DSLR menengah hingga entry level, semisal Canon 600D atau Nikon D5100. Sensor four third saat ini sangat umum digunakan pada kamera Mirrorless Micro Four Third (MFT atau M4/3) dari Olympus dan Panasonic. Sensor dengan ukuran lebih kecil lagi disebut sebagai sensor 1″, digunakan pada kamera Mirrorless Nikon 1 (CX), dan kamera Sony RX10 dan RX100.

Kamera saku umumnya memiliki sensor yang lebih kecil, biasanya disebut dengan ukuran 1/1.5″ hingga 1/2.3″. Dan terakhir adalah pada perangkat smartphone, sensor gambar yang digunakan memiliki ukuran lebih kecil lagi.

Pada umumnya foto yang dihasilkan oleh sensor ukuran besar memiliki kelebihan pada ketajaman, kedalam warna, dan jiga lebih sedikit noise. Hal ini terjadi karena permukaan yang lebih luas memungkinkan setiap titik pixel menangkap cahaya dengan lebih optimal, dan akhirnya diperoleh foto dengan detail warna yang lebih baik. Akan tetapi disisi lain, kamera dengan sensor yang lebih besar menjadi semakin berat dan semakin mahal untuk jenis teknologi yang sama. Sebagai contoh, kamera sensor full frame akan memberikan hasil yang umumnya lebih baik daripada kamera dengan sensor APS-C, tetapi dengan konsekuensi berat hampir 2 kali dan harga 3-4 kali lipat.

Crop factor – ukuran sensor kamera

Masih berhubungan dengan sensor kamera, dalam fotografi  juga dikenal istilah “crop factor” yang merupakan perbandingan ukuran (diagonal) sensor kamera terhadap kamera full frame atau format film 35mm. Sensor jenis full frame digunakan sebagai acuan karena ukurannya yang kurang lebih sama dengan permukaan klise film analog. Nilai perbandingan ini mempengaruhi sudut pandang yang diperoleh dengan lensa pada focal length tertentu (baca tentang Focal Length Lensa). Berikut ini tabel beberapa crop factor yang umum digunakan sebagai referensi.

Sensor Crop Factor (CF)
Full Frame 1
Canon APS-C 1.6
Nikon DX, Sony, Fuji, Pentax 1.5
Four Thurd, M4/3 Olympus, Panasonic 2
1″ Nikon, Sony RX100 2.7

Sebagai contoh, lensa dengan focal length 14mm pada kamera M4/3 (CF = 2.0) akan memiliki sudut pandang yang sebanding dengan lensa 28mm pada kamera full frame. Contoh lain untuk lensa 18mm pada kamera sensor DX (CF = 1.5), memiliki sudut pandang seperti lensa 27mm pada kamera full frame.

Crop factor sering dimmafaatkan oleh fotografer untuk mendapatkan efek lensa tele yang elbih panjang. Sebagai contol lensa 300mm pada sensor APS-C, akan memiliki lebar sudut pandang yang serupa dengan lensa 480mm pada sensor full frame.

Crop factor ukuran sensor kamera

Crop factor – ukuran sensor kamera

Review : Fujifilm X-A2, Kamera Mirrorless Retro Untuk Selfie Dari Fujifilm

Fujifilm X-A2

Makin banyak saja pilihan kamera mirrorless yang memudahkan penggunanya ber-narsis ria. Fujifilm membuat opsi baru dengan mengeluarkan seri Fujifilm X-A2.
Ada yang berbeda dari seri baju Fujifilm X-Series yang satu ini dibandingkan pendahulunya. Layarnya bisa ditekuk ke atas sehingga memudahkan penggunanya untuk ber-selfie. Serunya layar yag bisa diputar sampai 175 derajat bisa jadi pemicu pengaktifan fitur deteksi wajah dan mata untuk membantu pemotretan selfie, ketika layar diputar. Layar ini memudahkan kita untuk memotret dengan sudut pandang yang tidak biasa, seperti low angle dan high angle dengan mudah.
Namun, secara body, kamera dengan banderol kelas “budget” ini tak banyak berubah. Kesamaan ini terletak pada tombol menu dan ukuran layar 3 inchnya di belakang.
Di dalamnya, terdapat sensor APS-C CMOS 16,3 megapixel. Sensor ini adalah sensor konvesional dengan jenis Bayer-pattern, berbeda dengan seri Fujifilm X lain yang menggunakan sensor CFA (Color Filter Array) dan tanpa filter anti-aliasing. Namun, kamera ber-WiFi ini juga dilengkapi dengan optical image stabilization 3.5 stop, sehingga lebih mudah untuk mengambil gambar tele dan cahaya rendah (low light). X-A2 juga menggunakan Eye Auto Focus (AF) yang baru dikembangkan, Auto Makro dan Multi-Target AF untuk mencapai kinerja auto fokus yang mudah dan akurat.
Kamera yang sudah diimbuhi dengan efek simulasi film ‘Classic Chrome’ ini cocok untuk para penggemar foto pemula dengan pilihan warna putih, hitam dan coklat.
Kamera ini disandingkan dengan lensa zoom Fujinon XC16-50mm II F3.5-5.6 OIS.XC16-50mm II adalah lensa serbaguna yang ideal untuk berbagai objek foto, seperti pemotretan dikondisi cahaya rendah (low light) hingga pemandangan. Lensa ini terdiri dari 12 elemen kaca di 10 kelompok termasuk 3 elemen asferikal dan 1 elemen ED. Lensa ini memiliki 7 bilah aperture, yang menawarkan 17 stop di 1/3 bertahap EV untuk kontrol aperture yang tepat.

Memahami Mode Exposure Kamera DSLR

Memahami Mode Exposure Kamera DSLR – Kamera DSLR  memiliki serangkaian pilihan mode exposure dan masing-masing memberikan pengguna level kontrol yang berbeda. Banyak kamera memiliki sejumlah mode yang telah diprogram sebelumnya, didesain untuk mengoptimalkan setting untuk kondisi atau subjek yang spesifik. Namun banyak fotografer yang lebih memilih untuk tergantung pada “4 inti”, yaitu Program, Aperture Priority, Shutter Priority dan Manual. Keempatnya sering kali disebut “mode kreatif” dan memberikan tingkat kontrol exposure yang lebih tinggi.
Memahami mode exposure kamera DSLR

Mode Exposure Kamera DSLR – Mode exposure semi auto

Programmed Auto (P)

Adalah mode yang sepenuhnya otomatis. Kamera yang menentukan kombinasi aperture dan shutter speed, dan fotografer hanya perlu berkonsentrasi pada komposisi gambar. Sekarang ini DSLR sangat canggih sehingga mode ini dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil yang ter-exposed dengan benar pada sebagian besar situasi. Namun karena kamera sepenuhnya mengontrol exposure, mode ini menahan kreatifitas dan interpretasi si fotografer. Karena itu programmed auto (P) lebih baik dipakai untuk pemotretan standar saja.

Shutter Priority (S atau Tv)

Dalam shutter prority, fotografer mengatur shutter speed kamera secara manual sementara kamera memilih aperture yang sesuai untuk menghasilkan kombinasi exposure yang benar. Mode ini berguna untuk menentukan tampilan gerakan subjek. Misalnya jika anda ingin membuat blur gerakan si subjek, maka pilihlah shutter speed yang lambat. Selanjutnya jika anda ingin membekukan gerakan subjek pilihlah shutter speed yang cepat.

Aperture Priority (A atau Av)

Ini adalah mode yang paling populer. Aperture priority pada prinsipnya serupa dengan shutter priority, namun bekerja dengan cara kebalikannya. Anda memilih besaran aperture secara manual, sementara kamera secara otomatis memilih shutter speed yang sesuai. F stop yang dipilih akan menentukan Depth of Field (DoF), semakin kecil aperturenya semakin besar DoF-nya, atau sebaliknya. Karena itu mode ini memberikan kontrol penuh pada depth of field.

Mode Exposure Kamera DSLR – Modus Manual (M)

Mode manual mengesampingkan setting otomatis kamera. Anda yang sepenuhnya menentukan tingkat aperture dan shutter speed. Ini adalah mode yang paling fleksibel dan banyak digemari oleh para profesional. Dengan adanya mode manual ini, fotografer dapat dengan cepat dan dengan mudah mengganti setting yang disarankan kamera. Misalnya dalam kondisi yang sangat terang, gelap atau kontras sistem metering kamera DSLR dapat tertipu tapi dengan mode manual mudah untuk memperbaikinya. Atau jika anda ingin mengabaikan setting yang direkomendasikan kamera dan ingin melakukan pencahayaan secara kreatif.

Sebagai tambahan dari “4 inti” mode exposure, sebagian besar kamera DSLR memiliki program yang menyesuaikan setting dengan subjeknya. Program ini sering kali disebut dengan mode Basic dan dikembangkan untuk menyesuaikan setting dengan satu tipe fotografi. Mode-mode ini digambarkan dengan simbol-simbol bukan huruf. Mode ini secara otomatis menentukan aperture dan shutter speed sesuai dengan subjek foto. Sayangnya mode exposure kamera DSLR ini membatasi akses terhadap pengaturan lain dan tidak disarankan penggunaannya.