Category Archives: Lighting

Teknik Bounce Flash Untuk Mendapatkan Cahaya Lembut

Cahaya flash yang langsung mengenai subjek, dimana flash head diarahkan lurus kepada subjek, dapat menimbulkan cahaya yang terlalu kuat dan kurang bagus. Salah satu cara untuk memperhalus cahaya flash yang terpasang pada kamera adalah dengan ‘memantulkan’ (bounce) cahaya.

bounce flash
Bounce flash adalah suatu teknik dimana flash head sengaja diposisikan untuk memberikan cahaya tak langsung pada subjek. Cahaya paling baik dipantulkan pada permukaan yang putih, seperti dinding, langit-langit atau reflektor portabel yang besar. Jika permukaannya berwarna, cahaya yang dipantulkan akan mengambil warna dari permukaan tersebut. Untuk memantulkan cahaya, anda memerlukan speedlight eksternal dengan head yang dapat dimiringkan dan diputar, flash pop-up tidak dapat melakukannya karena posisinya tetap.

Alasan untuk melakukan teknik bouncing

Trik memantulkan cahaya ke langit-langit menghasilkan tiga hal yang sangat hebat:
  1. Kalau cahaya flash kecil, dia akan langsung mengenai langit-langit yang lebar hingga menyebar dengan luas, sehingga kualitas cahaya yang jatuh kembali ke subjek akan lebih besar dan lebih lembut. Pemantulan ini akan langsung menghilangkan tingkat kekerasan cahaya dari flash dan memberi anda kualitas cahaya yang lebih baik.
  2. Karena cahaya sekarang datangnya dari atas, maka flash tidak akan menghasilkan cahaya satu dimensi dan ‘tembak langsung’ melainkan flash dengan cahaya terarah, yang menghasilkan bayangan yang bagus dan memiliki banyak dimensi bagi wajah subjek anda.
  3. Teknik ini akan menghindarkan anda dari hasil bayangan yang keras di dinding belakang subjek. Karena cahayanya datang dari atas, maka bayangan akan muncul dilantai belakang subjek, bukan di dinding belakangnya, maka bayangan juga lebih lembut.
bounce flash

Lalu, kalau teknik bouncing ke langit-langit ini sangat hebat, kenapa kita tidak selalu bisa menggunakannya? Ada sejumlah alasan, yaitu:

  1. Tidak selalu ada langit-langit yang bisa dipakai untuk memantulkan cahaya. Kadang anda memotret di luar ruangan.
  2. Langit-langitnya terlalu tinggi untuk bisa memantulkan cahaya. Jika langit-langitnya jauh lebih tinggi dari 3 m, maka trik pemantulan ini tidak terlalu berguna karena cahayanya terlalu jauh untuk bisa mencapai langit-langit dan kembali ke bawah, sehingga subjek anda tidak akan mendapatkan pencahayaan yang cukup.
  3. Fakta bahwa cahaya menyerap warna objek yang dia kenai, sehingga jika langit-langitnya berwarna kekuningan, maka cahaya anda akan menjadi kekuningan pula, dan subjek anda pun akan tampak kekuningan. Tetapi kalau langit-langitnya hanya setinggi 2,5 hingga 2,7 m dan berwarna putih maka anda bisa menggunakan teknik ini.

    Teknik Pemotretan Dengan Off-Camera Flash

    Apakah off-camera flash? Off-camera flash, yang disebut juga sebagai strobism, merupakan kemampuan untuk melepaskan flash dari pemasangan permanen di bodi kamera, dan membidikkannya dari posisi jauh dari kamera. Melepaskan flash dari kamera membuka banyak potensi kreatif. Off-camera flash memungkinkan untuk memodifikasi cara cahaya mempengaruhi objek, melalui arah dan jarak. Menggunakan lampu flash untuk meningkatkan pencahayaan membantu merekam foto yang lebih efektif. Off-camera flash banyak digunakan untuk portrait karena dapat mengarahkan cahaya dengan lebih efektif pada wajah, juga menangkap banyak detail dalam pemandangan.
    off-canera flash
    Mengapa saya membutuhkanya? Dibutuhkan kamera, flash terpisah, dan cara tertentu untuk memicu flash. Sebagian kamera memiliki built-in wireless, tapi seringnya dengan kabel atau lebih baik lagi dengan flash trigger terpisah dan receiver digunakan untuk berkomunikasi dengan membidikan lampu flash. Ada bermacam flash trigger yang ditawarkan, mulai dari yang murah sampai versi yang mahal dan rumit, yang juga menawarkan kontrol yang lebih tinggi atas satu flash atau seluruh grup yang terdiri atas flash terpisah.
    Pengaturan apa yang dibutuhkan? Pengaturan kamera yang tepat bervariasi disetiap kondisi. Satu-satunya cara jitu untuk mulai memahami cara kerjanya adalah bereksperimen, dan melihat perbedaan ketika pengaturan daya, arah flash dan jarak dari objek diubah. Anda bisa mulai dengan set-up still live sederhana, sebelum beralih ke portrait dan objek lain yang menantang.
    off camera flash
    off camera flash
    Kedua foto di atas direkam sebagai contoh mendasar dengan off-camera flash. Foto pertama menunjukkan objek yang terekspos dengan sempurna, tapi dengan flash terpasang pada hotsoe kamera. Artinya arah pencahayaan langsung pada fosil. Meski flash menerangi objek dengan memadai, hasilnya foto yang datar. Hanya dengan melepaskan flash dari kamera, memposisikannya pada arah yang pas untuk objek, dan membidikannya melalui wireless trigger, foto yang dihasilkan jauh lebih baik. Pada foto di bawah menegaskan tekstur fosil dan membuat bentuknya jauh lebih 3 dimensional.

    Mengenal Flash Kamera DSLR

    Mengenal Flash Kamera DSLR
    Waiting by Alessandro Musicorio on 500px.com
     

    Cahaya sangat penting fotografi. Jadi apa yang anda lakukan jika cahaya yang ada tidak cukup atau jika subjek tidak diterangi secara potensial? Kuantitas cahaya tidak selalu ideal dan seringkali tidak sempurna, jadi bagaimana anda mengatasi kekurangan dan ketidakkonsistenan cahaya? Jawabannya adalah dengan mengontrol tingkat cahaya dengan menggunakan flash.

    Dengan meningkatkan dan atau mengesampingkan cahaya alami, fotografer mempunyai kontrol lebih akan cahaya, dan karena itu dapat mengambil gambar yang lebih baik daripada jika anda hanya menerima dan menggunakan kondisi yang ada. Flash dapat membantu memotret gambar yang mustahil didapat. Namun, penambahan cahaya buatan ini akan memberikan tantangan lebih pada fotografer. Dengan menggunakan flash, beberapa parameter dasar exposure akan berubah. Misalnya, shutter time ditentukan oleh kecepatan sync kamera dan kecepatan flash yang terpancar secara efektif bekerja sebagaimana kecepatan shutter. Akibatnya, aperture lensa, dan jarak antara flash dan subjeklah yang mengontrol pencahayaan flash.
    Untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari penggunaan flash, kita perlu mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan penggunaan flash.

    Guide Number (GN)

    Guide number (GN) dari suatu flash unit diberikan oleh pabrik pembuat dan mengindikasikan kekuatan dan jarak operasinya. Nomor ini dapat digunakan untuk mengkalkulasi aperture yang sesuai atau jarak yang dapat ditempuh flash secara aktif. Nomor ini biasanya dinyatakan dalam ukuran meter dengan rating ISO terendah biasanya ISO 100 dan ISO 200. Guide number ini dapat digunakan dalam dua persamaan:

    f-stop = GN/jarak
    jarak = GN/f-stop
    Misalnya, guide number sebauh pop-up flash adalah 18 (ISO m/ISO 200), jarak operasi efektif untuk flash unit itu dapat dengan cepat dihitung dengan membagi nomor dengan f-stop yang dipilih. Jadi jika digunakan aperture f/4 maka range efektif dari flash adalah : jarak = 18/4 = 4,5 m.
    Cakupan speedlight eksternal akan lebih besar dari pop-up flash. Jadi guide numbernya pun akan lebih besar. Saat membeli flash ada baiknya membeli flash dengan nomor terbesar yang mampu anda beli, karena ia dapat beroperasi dalam jarak yang lebih jauh.

    Flash Recycle Time

    Waktu recycle ini adalah lamanya waktu yang diperlukan unit flash untuk mengisi kembali kapasitornya dan siap untuk digunakan setelah ia melepaskan cahaya. Biasanya recycle time ini hanya memakan waktu beberapa detik saja, namun akan lebih lama jika flash dilepaskan dengan kapasitas penuh dan batere mulai lemah.

    Flash Built-in (Pop-up Flash)

    pop-up flash
    Hampir semua kamera dilengkapi dengan pop-up flash yang ada dalam kamera (built-in). Pop-up flash yang ada dikamera anda hanya dirancang untuk satu hal saja yaitu memberikan anda cahaya yang paling datar, dan paling keras. Di bawah ini adalah beberapa alasan kenapa anda harus menghindari menggunakan pop-up flash pada beberap kondisi :
    1. Face (tempat cahaya keluar) dari pop-up flash itu sendiri benar-benar kecil, dan semakin kecil sebuah sumber cahaya, semakin keraslah cahaya yang dihasilkan.
    2. Karena pop-up flash itu ditempatkan tepat diatas lensa kamera, maka anda akan mendapatkan kualitas cahaya dan sudut yang sama seperti cahaya lampu yang dipasang di atas helm.
    3. Menggunakan pop-up flash akan menyebabkan hampir 100% subjek anda akan memiliki red eye, karena flashnya terpasang sangat dekat.
    4. Karena pop-up flashnya menembak subjek anda dengan lurus, maka subjek anda akan cenderung tampak sangat datar dan kurang dimensi di sekelilingnya.
    5. Anda hanaya memiliki sedikit kendali atas cahaya, ke mana arahnya dan bagaimana dia jatuh mengenai objek.
    Dari sekian kelemahan penggunaan pop-up flash ada keuntungannya yaitu mereka dapat dengan cepat diaktifkan saat dibutuhkan, tanpa harus memasang unit yang terpisah dan tanpa harus menambah beban pada tas kameramu.

    Flash Eksternal

    external flash
    Jika anda menginginkan hasil yang berkualitas dengan menggunakan flash, maka anda perlu memiliki unit flash eksternal yang khusus dibuat untuk masing-masing model kamera. Yang membuat flash eksternal istimewa adalah :
    1. Anda bisa membidikkannya ke berbagai arah, sedangkan pop-up flash hanya bisa menembak lurus ke depan.
    2. Anda bisa mengarahkannya ke atas (Bounce flash).
    3. Anda bisa mencopotnya dari kamera untuk menciptakan directional light (cahaya terarah).
    4. Sekalipun flash ini terpasang di atas kamera, resiko untuk mendapatkan red eye lebih kecil karena posisi lampu kilatnya lebih tinggi.
    5. Dengan flash eksternal, anda mendapatkan kendali cahaya, kekuatan cahaya yang lebih besar, dan yang paling penting kualitas cahaya yang lebih baik. 

      Mengenal Teknik Fill-in Flash Pada Fotografi

      Saat menggunakan flash, cahaya flash tidak harus selalu menjadi sumber cahaya utama untuk exposure. ‘Fill-in’ atau ‘fill flash’ adalah teknik dimana cahaya flash dilepaskan untuk mendukung cahaya yang ada, biasanya untuk membuat area bayangan gelap di luar ruangan atau saat matahari terik, menjadi lebih terang. Biasanya kita menganggap flash digunakan hanya pada kondisi kurang cahaya, namun sebenarnya flash adalah alat bantu yang berguna dalam berbagai situasi, misalnya untuk menghilangkan bayangan gelap dalam kondisi cahaya yang sangat terang, untuk mengurangi kontras dan mencerahkan gambar yang kusam.
       
      Fill-in flash adalah teknik flash yang paling penting untuk dikenal, membuat foto lebih hidup namun tetap terlihat natural. Fill-in flash populer diantara fotografer portrait yang bekerja di luar ruangan terutama saat matahari tepat di atas kepala, yang akan memberikan bayangan di bawah hidung, mulut dan kantung mata model. Tak hanya itu, fill-in flash juga berguna disituasi apapun dimana bayangan menutupi detail subjek, atau saat background jauh lebih terang daripada foreground. Menggunakan fill-in flash tidak mengubah setting exposure yang sudah ditentukan. Aperture dan shutter speed diatur untuk mengekspos background dengan benar, sementara flash digunakan untuk menerangi subjek di bagian depan.

      before and after fill-in flash
      Untuk membantu anda menentukan apakah perlu melakukan fill-in flash atau tidak, tanyakan pada diri anda sendiri, apakah subjek tertutup bayangan, atau apakah ada lebih banyak cahaya di belakang subjek daripada di depannya? Jika jawaban salah satu dari pertanyaan tersebut adalah ya, maka anda perlu mempertimbangkan apakah anda merasa cukup dekat dengan subjek agar penggunaan cahaya flash efektif. Jika anda cukup berada dekat subjek, maka pasanglah speedlight eksternal atau flash built-in yang ada dikamera. Fill-in flash terlihat natural jika outputnya kurang lebih 1 stop lebih gelap dari cahaya yang ada. Jika rasio flash dan cahaya yang ada terlalu mirip, atau jika flash mulai terlihat lebih terang dari cahaya yang ada, keseluruhan balance-nya akan terlihat salah dan menggagalkan tujuan semula penggunaan flash.Dengan mengatur setting ‘exposure flash compensation’ ke kiri (-) atau ke kanan (+) pada kamera anda dapat mengurangi atau menambah lepasan cahaya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

      Ambient Light Dan Jenis Pencahayaan Dalam Fotografi

      Setelah kita memahami mengenai Esensi Cahaya Dalam Fotografi dan Mengenal Arah Cahaya Dalam Fotografi yang dibahas pada artikel sebelumnya, sekarang kita akan membahas tentang Ambient light atau sumber cahaya dan jenis-jenis pencahayaan yang digunakan dalam fotografi.
      Ambient light atau dikenal juga dengan cahaya yang ‘ada’ atau ‘tersedia’ adalah istilah yang menjelaskan tentang cahaya yang ada di sekitar subjek atau pemandangan yang dapat digunakan untuk mengambil foto. Ambient light ini bisa berupa ambient light alami maupun ambient light buatan. Contoh ambient light alami adalah matahari sedangkan ambient light buatan bisa berupa cahaya lampu, cahaya dari flash dan lain-lain.

      Sumber pencahayaan fotografi

      Matahari merupakan sumber cahaya utama pada fotografi outdoor disiang hari. Sumber cahaya ini memiliki karakter yang khas mengikuti posisi dan kondisi langit. Pergeseran posisi matahari karena rotasi bumi ini bisa digambarkan dengan siklus harian matahari.

      1. Blue hour

      Blue hour kurang lebih berkisar pada satu jam sebelum matahari terbit (05:00 – 06:00), dan satu jam setelah matahari terbenam (18:00 – 19:00). Pada saat-saat ini, pendaran matahari yang berada dibawah horizon  membentuk semburat pada langit dengan gradasi warna dari biru hingga ungu atau kemerahan. Sangat sesuai untuk dikombinasikan dengan lampu buatan (di gedung dan jalan) sebagai foto pemandangan kota (cityscapes).

      ambient light, jenis cahaya fotografi, blue hour

      Soft Color of The Cold Evening by Miroslav Petrasko on 500px.com

      2. Golden hour

      Golden hour berkisar pada satu jam setelah matahari terbit (06:00 – 07:00), atau satu jam sebelum matahari terbenam (17:00 – 18:00). Pada kisaran waktu ini, sinar matahari yang kita terima ter-diffuse lebih banyak oleh lapisan atmosfer sehingga intensitasnya turun, gradasi yang lembut, dan memiliki warna yang hangat (warm). Sangat sesuai untuk memotret landscape, cityscape, portrait dan sebagainya.
      ambient light, jenis cahaya dalam fotografi, golden hour

      Morning Glow by Miroslav Petrasko on 500px.com

      3. Cahaya pagi/sore

      Cahaya matahari pada waktu pagi (07:00 – 10:00) dan sore (14:00 – 17:00) bisa digunakan untuk memotret cityscape dan landscape dengan langit yang lebih biru dibandingkan dengan golden hour. Perhatikan arah cahaya untuk mengandalkan efek bayangan agar sesuai dengan yang diinginkan. Pada jam-jam ini anda bisa menggunakan backlight untuk memotret orang.

      ambient light, evening, jenis cahaya dalam fotografi

      The Blink by Costas Gountanas on 500px.com

      4. Cahaya tengah siang

      Sinar matahari pada tengah siang memiliki karakter yang tajam, keras dan kontras dengan arah hampir tegak. Foto yang dihasilkan dengan sinar langsung matahari pada jam-jam ini umumnya kurang enak dilihat. Hindari memotret ditengah siang, atau gunakan naungan untuk melembutkan cahaya tadi. Apabila terpaksa, maksimalkan penggunaan komposisi untuk membantu memperkuat foto.

      ambient light, jenis cahaya dalam fotografi, cahaya tengah siang

      Brighton Beach by Deborah Bowness on 500px.com

      5. Shade atau cloudy

      Lokasi dengan naungan/shade tepat sekali untuk memotret pada jam-jam dengan matahari yang cukup tinggi sudut dan intesitasnya, yaitu antara 08:00 – 16:00. Pada lokasi ini diperoleh cahaya yang memiliki karakter lembut. Cahaya matahari pada saat langit berawan juga memiliki karakter yang serupa.Awan bekerja sebagai diffuser yang menghamburkan sinar matahari menjadi soflight. Anda memamfaatkan kondisi berawan untuk memotret apapun, tentu saja dengan menggunakan white balance yang tepat.
      ambient light, jenis cahaya dalam fotografi, shade/cloudy

      Spring Is Here by Miroslav Petrasko on 500px.com

      6. Window light

      Window light merupakan hamburan dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela, dan bukan cahaya langsung dari matahari. Pencahayaan ini dibentuk dari pantulan cahaya oleh partikel debu di udara, langit, dinding, atau setelah dilembutkan oleh lapisan translucent. Sifat window light sangat lembut, dan sesuai untuk foto portrait, makanan (food photography), produk (still life), dan sebagainya.

      ambient light, natural light, jenis cahaya dalam fotografi, window light

      Blueberries by Mark Richardson on 500px.com

      7. Ray of light (RoL)

      RoL adalah istilah yang digunakan untuk berkas sorotan sinar. Efek ini muncul pada sinar yang melewati celah-celah dan kemudian melalui partikel di udara, bisa berupa asap, kabut, uap air, debu, dan sebagainya. Anda bisa memamfaatkan RoL untuk menambah kesan dramatis pada foto yang dihasilkan.
      ambient light, jenis cahaya dalam fotografi, ray of light

      Sunday Morning II by Michael Guggemos on 500px.com

      8. Lampu incandescent/bohlam

      Ambient light buatan ini memiliki karakter warna yang hangat, cenderung oranye atau kemerahan. Anda bisa menggunakan sumber cahaya ini dengan mengatur white balance pada posisi auto, atau incandescent.
       
      ambient light, jenis cahaya dalam fotografi, warm light, incandescent light

      Coffe by Sara Petagna on 500px.com

      9. Lampu flourescent

      Lampu flourescent atau sering juga disebut lampu TL, sangat umum digunakan karena memiliki efisiensi yang lebih baik dari lampu bohlam. Cirikhas lampu ini adalah adanya lonjakan spektrum warna hijau. Sebagian besar lampu flourescent berwarna putih (cool daylight, CT:5500-6500K), dan juga ada yang dirancang dengan warna warm sehingga mirip dengan bohlam. Gunakan WB yang sesuai untuk memotret di bawah jenis pencahayaan ini.
      ambient light, jenis cahaya dalam fotografi, flourescent light, cool light

      Brookefield Place by David Keller on 500px.com

      10. Api

      Lampu minyak, lilin, obor, dan beberapa benda lain memancarkan sebagian hasil dari api pembakaran. Intensitas dari pencahayaan dengan api umumnya sangat lemah, dengan warna yang sangat warm. Anda memerlukan pengaturan exposure yang tepat untuk kondisi yang menyerupai low light, sangat disarankan menggunakan lensa dengan aperture lebar. Hal lain yang sebaiknya diperhatikan adalah white balance, sebaiknya diatur secara manual pada temperatur sekitar 1700-2500K.
      ambient light, jenis cahaya dalam fotografi, candle light

      A Happy New Year by Kohei Endo on 500px.com

      11. Flash

      Lampu flash umumnya digunakan apabila ambient light di lokasi anda memotret tidak cukup terang dan saat dibutuhkan untuk fill in. Beberapa teknik dan setting yang disarankan pada penggunaan flash adalah:

      – Slow-sync

      kamera menggunakan kecepatan rendah, sehingga mengumpulkan lebih banyak cahaya ambient. Sesuai digunakan pada pemotretan dengan background pencahayaan yang redup.

      – Rear curtain/2nd curtain

      flash melepaskan cahaya saat shutter menutup, sesuai untuk objek yang bergerak karena flash akan membekukan gambar pada posisi akhir.

      – Red eye reduction 

      fitur ini mengurangi munculnya mata merah (red eye) pada foto yang dihasilkan.
      Beberapa teknik penggunaan flash lainnya telah dibahas pada artikel sebelumnya yaitu Teknik Bounce Flash Untuk Mendapatkan Cahaya Lembut, Teknik Fill-in Flash, dan Teknik Pemotretan Dengan Off Camera Flash.
      Itulah beberapa ambient light atau sumber cahaya yang bisa kita gunakan dalam fotografi.