14 Tips Fotografi Portrait Dan Sistem Pencahayaannya 3

Tips Fotografi Portrait : Gunakan flash

Artikel kali ini bagian akhir dari 14 Tips Fotografi Portrait Dan Sistem Pencahayaannya akan membahas tentang teknik pencahayaan fotografi portrait.

10. Dapatkan pencahayaan artistik dengan flash

Lengkapi peralatan anda dengan flashgun, remote trigger dan diffuser akan memberikan pencahayaan yang dramatis pada foto anda.
tips fotografi portrait pencahayaan dramatis
Cahayai subjek anda dari sisi samping untuk mendapatkan efek dramatis pada foto anda, gunakan exposure compensation -2 sehingga background akan underexposure.

11. Wireless flash trigger

Walaupun pop-up flash kamera digital anda dapat berguna dan membantu, ada banyak alasan untuk berinvestasi dalam flashgun. Salah satu teknik fotografi portrait favorit adalah dengan penggunaan off camera flash. Menggunakan off camera flash memberikan hasil yang lebih powerfull dan memungkinkan anda untuk memodifikasi cara cahaya mempengaruhi subjek melalui arah dan jarak. (Baca Teknik Off Camera Flash).
tips fotografi portrait flash

12. Menggunakan fill-in flash pada saat memotret siang hari

Meskipun mungkin tampak aneh menggunakan flash saat memotret di matahari terik, tetapi justru anda harus menggunakannya.Matahari dapat menimbulkan masalah bagi fotografer portrait saat memotret outdoor: bayangan yang keras pada wajah, exposure yang tidak seimbang dan highlight yang terbakar. (Baca Teknik Fill Flash Pada Fotografi)
 
tips fotografi portrait fill in flash
 Dengan fill in flash
tips fotografi portrait fill in flash
Tanpa fill in flash
Menggunakan fill flash akan meningkatkan foto portrait anda, kamera akan menangkap exposure yang lebih seimbang karena flash akan mencahayai subjek anda ketika kamera mengekspos background.

13. Mamfaat off camera flash

Flash yang dapat dilepas dari pemasangan permanen di bodi kamera membutuhkan trigger untuk memicu flash, bisa dengan kabel atau secara wireless dengan menggunakan remote yang terpasang pada hotshoe kamera. Anda bisa juga menggunakan 2 flash atau lebih untuk setting pencahayaan yang lebih kompleks. Menggunakan remote trigger memungkinkan anda untuk memicu 1 flash yang berfungsi sebagai “master”, yang akan memicu flash yang ke 2 yang berfungsi sebagai “slave” flash pada saat waktu yang bersamaan. Tambahkan juga diffuser dan softbox untuk mendapatkan cahaya yang lembut dan penyebarannya menjadi lebih merata.
 
tips fotografi portrait off camera flash

14. Upgrade flash dan aksesorisnya

Apabila anda lebih serius menekuni fotografi portrait anda bisa meng-upgrade lighting equipment anda ke tingkat yang lebih advance, inilah daftarnya:
– satu atau dua flashgun
– Diffuser flashgun
– Softbox flashgun
– Kabel remote flash
– Wireless flash trigger

Review Fujifilm X-T10, Mirrorless Anyar Untuk Para Traveler

Fujifilm X-T1 yang telah diluncurkan tahun lalu menuai banyak pujian. Apalagi mengingat bagaimana saat itu Fujifilm membanggakan kualitas gambar serta kemampuan autofocus-nya. Kali ini Fujifilm membuat sesuatu yang mungkin dapat disebut sebagai ‘turunan’-nya X-T1, yaitu Fujifilm X-T10. Digadang-gadang sebagai kamera untuk fotografi antusias. Apasaja yang diberikan oleh saudara X-T1 ini?
fujifilm X-T10

 

Sistem Autofocus

Pengguna yang tidak menganggarkan kamera diatas Rp10 juta untuk kamera sekelas X-T1 mungkin akan tertarik X-T10. Fujifilm menjanjikan kualitas dan spesifikasi yang tidak jauh berbeda dibandingkan saudaranya di kelas atas tersebut. Dimulai dari sensor yang ditanamkan, X-T10 mengadopsi sensor 16MP X-Trans CMOS II yang sama dengan yang dimiliki X-T1. Prosesor yang dipasangkan pada X-T10 juga EXR Processor II. Kamera teranyar Fujifilm ini juga memiliki burst rate hingga 8fps seperti X-T1. Tidak ketinggalan juga dengan rentang ISO yang diberikan, ISO 100 – 51.200 saat memotret dalam format JPEG. Sejauh ini, tentu saja sangat memuaskan.

Masih ada lagi tentang viewfinder elektronik kebanggaan Fujifilm X-T1 yang memiliki resolusi sangat tinggi, dengan 2,36 juta titik. Resolusi tinggi ini tentu saja memudahkan pengguna saat memotret dengan melihat tangkapan yang lebih jelas pada viewfinder. Resolusi tinggi ini juga menjadi spesifikasi pada viewfinder elektronik OLED yang terpasang di bodi X-T10. Belum lagi produsen kamera dan lensa asal Jepang ini mengklaim bahwa viewfinder elektronik mereka memiliki waktu jeda terpendek di dunia, yaitu 0,005 detik. Sedikit perbedaannya adalah perbesaran. Jika X-T1 memiliki perbesaran hingga 0,77 kali, OLED EVF Fujifilm X-T10 hanya sebesar 0,62 kali. Di luar hal di atas, X-T10 tetap cukup menjanjikan. 

Fujifilm mendesain sistem autofocus yang baru. Tersedia 77 titik autofocus dimana pengguna dapat melakukan pengaturan fokus ke dalam beberapa modus. Selain modus single point dan modus zone, X-T10 juga menawarkan modus Wide/Tracking yang secara otomatis memindahkan titik fokus sekarang dengan yang akan diprediksikan pada objek bergerak. Fitur ini juga bekerja saat objek bekerja baik ke area atas dan bawah, kiri dan kanan, atau mendekat dan menjauh dari kamera. Sedangkan pada modus single point, X-T10 menggunakan phase detection AF yang bekerja dari 2.5EV hingga 0.5EV. Sistem ini juga ditambahkan fitur Eye Detection AF yang membantu pemfokusan otomatis pada mata objek serta fungsi Auto Macro. Dengan fitur Auto Macro, kamera akan otomatis bekerja dalam modus Macro –  tanpa harus menekan tombol Macro lagi – dengan cara mendeteksi titik fokus pada objek.

Untuk penggemar fotografi yang senang berkreasi dengan fotografinya, Fujifilm juga menghadirkan fitur – fitur seperti Multiple Exposure, serta timelapse untuk mengambil gambar dari 1 detik sampai 24 jam dan hingga 999 foto. Selain spesifikasi dan fitur yang telah disebutkan, anda juga tidak akan kehilangan ciri khas dari Fujifilm, foto dan video dengan nuansa film yang dilengkapi dengan berbagai pilihan filter dan tone warna yang tersedia.

Ringan dan Ringkas

Dari aspek penampilan, Fujifilm X-T10 mirip dengan saudara lainnya di seri X. Tapi mirrorless yang satu ini memiliki bodi kompak dengan ukuran 118x83x41mm. Dan hanya seberat 381g. Lebih kecil dan lebih ringan dibandingkan X-T1. Cocok untuk anda pakai mengabadikan momen saat melakukan traveling. Juga akan sangat membantu anda membuat foto street sembari berjalan kaki, tanpa menarik banyak perhatian.

Kekurangan pada X-T10 dalam aspek bodi adalah desain yang tidak tahan cuaca, tidak seperti pada X-T1. Tapi kekurangan ini sebenarnya tidak terlalu kentara selama anda menggunakannya secara wajar. Fujifilm tetap memastikan bodi X-T10 tetap kokoh. Material magnesium alloy-nya tetap berhasil membuat tampilan kamera stylish ini terasa solid.

Tombol dan tuas pengaturan pada X-T10 agak berbeda dibandingkan X-T1. Tapi anda akan tetap merasa tombol – tombol tersebut lebih familiar. Ada tuas serta beberapa tombol di bagian atas kamera dan di belakang kamera. Dari seluruh tombol yang disediakan, anda dapat mengkustomisasi tujuh tombol diantaranya. Lebih banyak tombol kustom dibandingkan X-T1. Anda juga akan menemukan layar LCD 3 inci yang bisa ditekuk seperti pada X-T1. Hanya saja LCD ini memiliki resolusi 920.000 titik, sedangkan X-T1 memberikan resolusi yang lebih baik, yaitu 1.040.000 titik. Fujifilm memaketkan X-T10 dengan lensa Fujinon 16-50mm f/3.5-5.6 OIS atau dengan lensa Fujinon 18-55 f/2.8-4 R LM OIS.   

Mengolah Foto HDR Dengan Photoshop

cara mengolah foto HDR dengan photoshop

Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas cara memotret HDR, sekarang saatnya anda mulai mengolah foto-foto HDR tadi menjadi foto HDR ‘matang’ dengan menggunakan Photoshop.Untuk kasus ini proses penggabungan dilakukan dengan menggunakan tool Layer dan Mask, sehingga akan diperoleh foto HDR yang tampak realistis. Inilah Langkah-langkahnya:

cara mengolah foto HDR dengan photoshop

cara mengolah foto HDR dengan photoshop

1.Buka Raw

Buka foto yang akan digabung di Adobe Camera Raw, atur white balance dan slider exposure untuk memperoleh exposure langit dan foreground yang pas. Lalu simpan dalam format TIFF.
cara mengolah foto HDR dengan photoshop

2. Menyelaraskan gambar

Masuk ke menu utama photoshop, kemudian klik File>Scripts>Load Files Into Stack. Pilih 2 file yang disiapkan kemudian centang Attemp to Automatically Allign Source Images. Setelah itu klik Ok, dan kedua file gambar akan tergabung menjadi satu file.
 
cara mengolah foto HDR dengan photoshop

3. Buat Mask

Klik layer paling atas. Buat layer mask dengan mengklik Layer>Layer Mask dan beri fill hitam. Matikan visibility pada layer atas dan gunakan Magic Wand Tool untuk menyeleksi langit. 
cara mengolah foto HDR dengan photoshop

4. Perbaiki exposure langit 

Nyalakan visibility layer atas kemudian klik Mask. Sembunyikan seleksi dan gunakan brush putih dengan opacity 30% untuk memberikan sapuan pada langit yang diseleksi.

cara mengolah foto HDR dengan photoshop

5. Finishing

Lakukan sapuan langit yang diseleksi tadi dengan brush sepanjang garis horizon. Kemudian lakukan adjustment Curve untuk menaikkan kontras dan kemudian atur Vibrancy dan sharpen untuk menajamkan gambar.
 
cara mengolah foto HDR dengan photoshop

Itulah langkah-langkah mengolah foto HDR dengan menggunakan tool Layer Mask pada Photoshop, kelemahannya adalah timbul halo pada garis horizon.

Fotografi Cityscape: Tips Memotret Jejak Cahaya Lampu Dengan Long Exposure

tips memotret jejak cahaya (light trail) dengan long exposure
Westminster’s Rainbow by Mattia Zambaldi

Pemandangan urban dan langit kota memiliki kualitas istimewa bila difoto di malam hari atau saat cahaya kurang (low light). Pada kota-kota yang sibuk biasanya akan ada gerakan dalam gambar, seperti kendaraan atau orang yang sedang bergerak. Karena lamanya shutter speed yang digunakan, gerakan ini akan berbayang dan menghasilkan efek efek yang menarik. Misalnya, jejak cahaya (light trail) yang ditinggalkan lampu depan dan lampu belakan mobil akan menghasilkan efek visual yang menarik dan menambah dimensi ekstra pada foto. Waktu yang terbaik untuk memotret cityscape pada malam hari adalah saat jam di antara matahari terbenam dan sebelum malam tiba (blue hour). 

Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas peralatan apa saja yang diperlukan untuk memotret di malam hari, maka sekarang kita akan membahas tips-tips menggunakan long exposure untuk mendapatkan jejak cahaya (light trail) di malam hari, antara lain :

1. Temukan spot yang bagus. 

Carilah cahaya dari lampu jalanan, mobil atau sunset yang akan menjadi daya tarik. Sebaiknya keluarlah setelah hujan untuk mendapatkan refleksi dan bias menarik.

2. Gunakanlah tripod dan kabel/remote release.

Tripod sangat membantu mendapatkan beragam kemungkinan foto yang unik. Selama anda tidak cemas dengan pergerakan objek, anda bebas menggunakan ISO rendah, aperture sempit, dan shutter speed lamban.

3. Gunakan modus manual.

Pilih ISO terendah (misalnya 100) dan gunakan modus manual. Atur shutter speed pada 10 detik. Cobalah memotret beberapa kali dan lihat hasilnya di LCD, cek histogram untuk memeriksa exposure-nya.

4. Cek tampilan jejak cahaya di LCD.

Apakah jejak cahayanya cukup panjang? Jika tidak, gunakan shutter speed lebih lambat (misalnya 20 detik) dan potret ulang. Cobalah hingga didapat hasil yang memuaskan.

5. Cek exposure.

Apakah fotonya terlalu terang (histogram cenderung ke sebelah kanan) atau terlalu gelap? Gunakan aperture yang lebih sempit (angka f besar) apabila fotonya terlalu terang, dan gunakan aperture lebih lebar (angka f kecil) apabila fotonya terlalu terang, dan potretlah ulang. Cobalah terus hingga didapat exposure yang tepat.

Memahami Shutter Speed Dalam Fotografi

Shutter speed dalam fotografi digital atau dikenal juga sebagai exposure time, adalah lama waktu sensor kamera menangkap citra dari objek. Satuan yang dipakai adalah detik, atau seringkali ditampilkan sebagai sepersekian detik.

Shutter speed terhadap waktu exposure

Shutter speed cepat, misalnya 1/1000 detik jeda waktu terbukanya shutter sangat pendek, dan jumlah cahaya yang ditampung oleh sensor menjadi sedikit. hasilnya adalah foto yang lebih gelap.
Sedangkan denga shutter speed yang lebih lambat (misalnya 1/25 detik), jeda waktu menerima cahaya menjadi lebih panjang, dan cahaya yang ditangkap sensor menjadi banyak. Hasilnya adalah foto yang lebih terang.
Memahami shutter speed
 Efek Shutter Speed : Freeze dan Motion Blur

Efek pengaturan shutter speed

Selain mengatur jumlah cahaya yang ditangkap, pengaturan shutter speed juga menentukan tertangkap atau tidaknya pergerakan (motion) dari objek. Pada shutter speed cepat, objek akan terlihat seperti tidak bergerak atau disebut dengan ‘freezing’. Dan sebaliknya pada shutter speed rendah, objek akan terlihat kabur dan berbayang, atau umumnya disebut dengan ‘motion blur’.