Tips Memaksimalkan Fotografi Landscape

Fotografi landscape merupakan salah satu dari beberapa genre fotografi yang populer. Jenis fotografi ini cuma membutuhkan waktu dan tempat yang tepat, sehingga anda harus bersabar ketika memotret landscape. Berikut ini adalah tips-tips dasar yang bisa
dipergunakan untuk memaksimalkan foto landscape, terutama bagi anda yang ingin mendalami fotografi landscape.

tips memaksimalk fotografi landscape

Empire of The Sun by Adrian Borda

1. Memaksimalkan depth of field (DoF) pada fotografi landscape

Pada fotografi landscape biasanya objek yang ada di depan (foreground) dan di belakang (background) dimasukkan ke dalam satu frame yang sama dan diinginkan agar keseluruhan ‘scene’ terlihat tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon. Untuk mendapatkan ketajaman pada keseluruhan bidang foto ini atau dengan kata lain depth of field yang selebar-lebarnya maka digunakan aperture sempit seperti f14, f16, f18, f22, f32, dst. Tentu saja dengan aperture yang sempit ini akan semakin lama exposure-nya.

Karena keterbatasan lensa (yang tidak bisa mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi di mana kita berdiri tidak mendukung, ada sebuah cara lain yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dengan scene yang kita hadapi,  yaitu dengan teknik hyperfocal distance. Inti dari teknik hyperfocal distance adalah meletakkan titik fokus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang fokus yang seluas-luasnya yang dimungkinkan sehingga akan tajam dari foreground hingga ke background.

2. Gunakan tripod dan kabel release

Akibat dari penggunaan aperture yang sempit untuk mendapatkan DoF yang luas, membuat exposure menjadi semakin lama, maka dibutuhkan tripod untuk long exposure untuk menjamin agar foto yang dihasilkan tajam. Disamping itu penggunaan kabel release
juga akan sangat membantu. Juga enable-kan mirror lock-up untuk menghindari getaran dari hentakan mirror.

3. Carilah titik fokus atau focal point

focal point pada fotografi landscape

Goðafoss – 13 sec. by Michael Fersch

Titik fokus disini bukanlah titik dimana fokus kamera diletakkan, tetapi merupakan sebuah titik dimana mata akan pertama kali tertuju (eye contact) saat melihat foto. Hampir semua foto yang baik mempunyai focal point. Pada fotografi landscape justru sangat membutuhkan sebuah focal point untuk menarik mata saat pertama kali melihat foto sebelum memulai mengeksplor detail keseluruhan foto. Sebuah foto tanpa focal point akan membuat foto hambar dan foto landscape akan terlihat datar. Focal point bisa berupa bangunan (seperti gubuk kecil di hamparan sawah padi hijau), pohon yang berdiri sendiri, batu, orang atau binatang, atau bisa juga bentuk siluet yang kontras dengan background. Peletakan focal point juga sangat berpengaruh, disinilah aturan “rule of third” berperan.

4. Carilah Foreground

Foreground bisa menjadi focal point atau bahkan menjadi point of interest (POI) pada sebuah foto landscape. Karena itu, carilah sebuah foreground yang kuat. Sebuah kesuksesan foto lansdscape ditentukan oleh foreground yang baik, terlepas dari bagaimana
dahsyatnya langit pada saat memotret. Objek apapun bisa menjadi foreground yang kuat untuk foto landscape. Dengan adanya foreground bisa membuat “sense of scale” dari foto landscape kita.

5. Pilih langit atau daratan

Langit berawan yang dramatis, ditambah lagi pada saat sunset atau sunrise pasti akan membuat foto kita menarik. Tetapi, kita harus tetap memilih apakah memasukkan sebagian besar langit dengan meletakkan horizon sedikit di bawah atau memasukkan sebagian
besar daratan dengan meletakkan horizon sedikit di atas di dalam frame. Sebagus-bagusnya daratan dan langit yang kita jumpai saat memotret, tentu akan membuat foto landscape menjadi tidak fokus apabila langit berawan yang dramatis dan daratan yang menarik dibagi dua sama bagian dalam frame.

Komposisi dengan menerapkan prinsip “rule of third” tentu akan sangat membantu dalam fotografi landscape. Letakkan garis horizon pada 1/3 bagian atas kalau kita ingin menonjolkan bagian daratan atau foreground-nya, atau letakkan horizon pada 1/3 bagian bawah kalau kita ingin menonjolkan langit yang dramatis. Aturan 1/3 bagian ini juga bisa dilanggar apabila pelanggaran tersebut justru akan memperkuat focal point.

6. Carilah leading line atau pattern

Fotografi landscape, belajar fotografi, tips fotografi, teknik hyperfocal distance, rule of third, komposisi, golden hours, blue hours, filter ND, filter CPL, long exposure, slow speed exposure

Autumn Mist by Scott Smorra

Sebuah garis atau pola bisa menjadi focal point yang menarik yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengeksplor foto landscape. Kadang juga garis atau pola bisa menjadi point of interest dari foto landscape. Garis memberikan kesan “sense of scale” atau kedalaman ruang ke dalam foto landscape. Garis dan pola bisa berupa apa saja, seperti garis cakrawala (horizon), garis pantai, hamparan bukit-bukit, sawah terasering, dan lain-lain. Buatlah angle dan komposisi yang tepat untuk memperkuat leading line dan pola (pattern).

7. Tangkap pergerakan alam

Sebuah foto landscape tidak akan berarti apabila hanya menangkap langit, bumi atau gunung saja. Tetapi semua elemen alam baik itu yang diam atau yang bergerak, seperti air terjun, gerakan ombak, aliran sungai, pohon yang bergerak, pergerakan awan, dan lain-lain akan membuat foto landscape lebih menarik. Kadang kita tidak perlu untuk memasukkan pemandangan seluas-luasnya ke dalam foto landscape, tetapi kita bisa memasukkan ke dalam frame dengan mengisolasi detail tertentu, baik objek yang statis maupun objek yang dinamis, bisa menjadikan subjek yang menarik untuk sebuah foto landscape.

8. Bekerjasamalah dengan alam dan cuaca

Sebuah “scene” atau pemandangan landscape dapat dengan cepat sekali berubah. Karena itu sangat penting untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk memotret. Kadang kesempatan untuk mendapatkan moment yang tepat bukan pada saat cuaca cerah dengan langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan dan badai, dimana langit dan awan akan sangat dramatis. Dibutuhkan kesabaran dalam menunggu moment serta kesiapan peralatan dan kejelian dalam menentukan objek dan focal point seperti awan, ray of light, pelangi, kabut dan lain-lain.

9. Golden hours dan blue hours pada fotografi landscape

Saat terbaik untuk memotret landscape adalah pada saat golden hours yaitu setelah matahari terbit (sunrise) dan sebelum matahari tenggelam (sunset). Golden hours adalah waktu pada saat sekitar 1-2 jam sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau cahaya dari matahari yang rendah akan membuat warna keemasan pada objek. Cahaya matahari yang lebih rendah ini akan membuat bayangan yang indah pada objek baik itu pohon atau pun orang. Apabila kita memotret pada saat golden hours sudah lewat atau pada saat matahari sudah terik, maka akan menghasilkan foto landscape yang datar, karena matahari sudah berada di atas kepala.

blue hours pada fotografi landscape

Moreton Mangroves by Paul De Odorico

Selain golden hours, ada lagi waktu yang terbaik untuk memotret landscape yaitu blue hours. Saat terjadi blue hours sangat singkat, yaitu sekitar 20-30 menit setelah matahari terbenam, dimana matahari sudah terbenam tetapi langit belum gelap pekat dan masih ada semburat warna biru dan ungu yang membuat langit menjadi dramatis. Jadi, pada saat matahari sudah tenggelam dan langit mulai gelap, kita jangan langsung mengemasi peralatan fotografi kita. Justru pada moment inilah kita mendapatkan pemandangan yang menakjubkan dimana langit berwarna biru berpadu dengan warna ungu dan keemasan. Gunakan long exposure untuk menangkap pergerakan awan yang akan memberikan tekstur pada langit birunya.

10. Cek horizon

Ada 2 hal yang perlu kita perhatikan sebelum menekan tombol shutter yaitu memastikan horizonnya sudah lurus dan sudah dikomposisikan dengan baik, kita dapat menerapkan rule of third untuk mendapatkannya. Kadang rule of third bisa dilanggar, tapi jika scene yang kita buat tidak cukup kuat elemennya, biasanya rule of third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik. Memang dengan cropping pada photoshop ataupun lightroom kita memperbaiki posisi horizon, tapi alangkah lebih baik pada saat eksekusi kita sudah menempatkan horizon pada posisi yang terbaik.

11. Ubah sudut pandang atau angle

Kadang kita terpaku pada satu sudut pandang atau angle yang umum dilakukan, seperti kalau kita mengunjungi suatu tempat yang sering kita lihat fotonya atau kita melihat foto-foto landscape di website galeri foto, kita ingin memotretnya dengan angle yang sama. Banyak cara untuk mendapatkan sudut pandang atau point of view baru. Tidak selamanya eye level angle dalam memotret itu yang terbaik. Cobalah angle-angle lain seperti low angle, high angle, waist level angle. Dan, foto landscape tidak harus selalu dengan orientasi lanskap/horizontal, andapun dapat mencoba dengan orientasi portrait/vertikal.

low angle pada fotografi landscape

Road to Aoraki by Bipphy Kath

Anda juga dapat mencari spot atau titik berdiri yang berbeda untuk mendapatkan view yang berbeda dan unik, seperti memanjat pohon atau mencoba berdiri lebih ke tepi jurang, atau bahkan tiduran di tanah, dan tentu saja dengan lebih memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan sebagai faktor utama dan menghitung resiko yang mungkin didapatkan. Sering-seringlah bereksperimen dengan berbagai angle untuk melatih teknik komposisi anda dan lama-kelamaan insting anda akan terlatih untuk menghasilkan foto tidak hanya dengan angle yang bagus, tetapi juga berbeda.

12. Pergunakan peralatan bantu fotografi landscape

Menggunakan beberapa peralatan bantu seperti di bawah ini akan sangat membantuk untuk menghasilkan foto landscape yang lebih baik.

Filter CPL : Untuk lebih meningkatkan saturasi warna, membuat warna langit lebih biru, dan menghilangkan pantulan pada air.
Filter ND : Untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke lensa atau menurunkan exposure, sehingga anda mendapatkan efek slow exposure speed. Dari ND2, ND4, ND8, dan seterusnya.
Filter ND Grad : Untuk menyeimbangkan expsoure antara bagian atas dan bagian bawah, misalnya antara langit dan daratan. Dari ND 0.1, 0.2, 0.3, 0.6 hingga 1.2. Ada 2 tipe ND Grad yaitu hard edge dan soft edge.
Graduated color filter, seperti graduated sunset, graduated tobacco, graduated blue fluorescent, dan sebagainya, dengan berbagai kepekatan dan tipe (mirip dengan filter ND Grad).
Bubble level : Untuk mendapatkan horizon yang datar. Bisa juga menggunakan grid pada live view.

13. Pemilihan lensa yang digunakan

Membuat foto landscape yang baik tidak harus selalu menggunakan lensa yang selebar-lebarnya, semua lensa dapat digunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dan seterusnya), wide (20mm – 35mm), medium (50mm – 85mm), hingga lensa tele dan super tele
(100mm – 600mm). Semua range lensa bisa digunakan. Semua itu tergantung pada kebutuhan dan seberapa luas scene yang kita hadapi dan ingin kita masukkan ke dalam frame. Lensa wide atau super wide kadang dibutuhkan jika kita ingin memasukkan seluruh
pemandangan seluas-luasnya, dengan memasukkan objek yang banyak dan berjauhan atau ingin mendapatkan perspektif yang unik. Tapi kadang lensa tele juga bisa digunakan untuk mengisolasi sebuah pemandangan sehingga lebih simpel dan fokus.

Diperlukan kejelian untuk melihat dan mencari suatu bentuk unik atau pola dari luasnya suatu pemandangan landscape sehingga kita dapat mengisolasi dan menggunakan lensa yang tepat. Hanya dengan sering memotret dan menghadapi berbagai pemandangan di
berbagai kondisi, akan mengasah insting anda untuk menghasilkan foto landscape yang baik.

14. Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan

Lakukan research terlebih dahulu sebelum kita melakukan pemotretan landscape pada suatu lokasi tertentu, terutama jika tempat yang akan menjadi spot pemotretan kita berbeda jauh iklim dan cuacanya, karena itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang akan kita bawa baik itu peralatan fotografi maupun peralatan penunjang lainnya. Cek ulang dan test kamera dan lensa yang akan dibawa. Usahakan peralatan yang dibawa dalam keadaan bersih, seperti lensa, filter, dan kamera.

Mengetahui kondisi alam dan lingkungan adat serta penduduk daerah dari suatu lokasi pemotretan akan sangat membantu. Dan jangan lupa untuk membawa peta atau GPS, khususnya bila kita hunting di daerah yang tidak diketahui atau lokasinya kita tidak hapal. Melakukan persiapan diri dan peralatan akan menentukan berhasil tidaknya photo trip kita.
Demikianlah tips-tips dasar untuk memaksimalkan fotografi landscape yang dapat diterapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *