Tips Mengoptimalkan Lensa Kamera

Cari tahu bagaimana cara mengoptimalkan lensa kamera.  Lensa yang berbeda bisa membawa perubahan segar pada foto anda. Mulai dari memasukkan seluruh pemandangan dengan lensa wide angle sampai mengisolasi detail di kejauhan dengan lensa telefoto, kemampuan untuk berganti ke lensa dengan focal length berbeda membuat kamera DSLR atau mirrorless anda bisa merekam segala macam objek. Tapi memaksimalkan lensa bukan sekedar melihat lebih dekat atau jauh menggunakan lensa. Memvariasikan focal length memberikan kesempatan untuk bereksperimen dengan sudut pandang yang memberi perspektif baru pada foto atau mengurangi tingkat depth of field. Lensa juga membuat anda bisa mencapai efek optik berbeda dan mencoba teknik-teknik fotografi seru, seperti free lensing. Untuk membantu anda memperoleh hasil terbaik kami menyusun panduan lengkap untuk memilih dan menggunakan lensa yang tepat disetiap kebutuhan.

lensa kamera wide angle

a new day has just begun by Manfred Karisch

Lensa kamera:  wide angle

Ketika memakai lensa wide angle, memperhatikan komposisi untuk menghindari objek terlihat kecil dalam foto. Cara paling mudah adalah dengan menambahkan kesan kedalaman pada foto wide-angle dengan memasukkan objek kuat pada foreground. Kalau objek pada foreground mencakup area besar seperti danau, gunakan titik pandang tinggi dan arahkan kamera ke bawah. Tapi, bisa juga meningkatkan kekuatan objek kecil pada foreground dengan mengambil sudut pandang rendah dan sangat dekat dengan objek.

Ketika memasukkan objek sangat dekat dengan kamera, anda perlu mendapatkan depth of field yang maksimal agar foreground dan background tajam. Menggunakan aperture sempit, seperti f/22 atau f/16 akan memberikan depth of field besar, karena akan memfokuskan pada area sepertiga di antara foreground dan background (hyperfocal distance).

Menggunakan aperture sempit dapat menimbulkan efek difraksi, yang akan memberikan hasil lebih lembut daripada aperture lebar. Jadi, gunakan aperture ini hanya ketika harus memiliki depth of field maksimal. Di luar itu, f/8 atau f/11 memberikan hasil lebih tajam.

Banyak lensa kamera wide angle mengalami distorsi barrel, dimana garis-garis lurus pada objek melengkung di tengah. Efek ini paling kentara ketika merekam objek seperti pantai atau bangunan, dimana ada garis horizontal dan vertikal yang jelas. Ini memang karakter optik dari lensa wide angle. Tapi, biasanya distorsi mudah dikoreksi dalam kamera atau ketika foto diproses.

Garis vertikal yang mengumpul di tengah juga masalah yang sering dijumpai, terutama pada cityscape. Distorsi membuat gedung tampak jatuh ke belakang. Masalah ini disebabkan karena kamera miring ke atas untuk memasukkan seluruh objek. Maka, pertahankan bagian belakang kamera vertikal dan lakukan pemotretan menjauhi objek, atau gunakan lensa tilt-shift.

Lensa Kamera: standard

Menggunakan lensa kamera dengan focal length ekstrim memang bisa membuat foto anda lebih menarik, tapi jangan abaikan potensi yang disediakan oleh lensa zoom standard untuk menciptakan foto yang spektakuler. Lensa zoom standard paling sederhana sekalipun menawarkan rentang focal length yang sesuai untuk merekam berbagai objek, mulai dari landscape dan pemandangan kota (cityscape), sampai portrait dan bahkan close up.

Meski memiliki fleksibelitas, tapi ada satu kelemahan pada lensa zoom standard (atau kit), dimana biasanya aperture maksimal terbatas pada f/3.5 hingga f/5.6. Jadi, ada baiknya mempertimbangkan untuk meningkatkan ke lensa dengan aperture maksimal f/2.8 agar lebih fleksibel lagi. Aperture maksimal yang lebih lebar ini akan memberikan depth of field yang lebih sempit, terutama pada jarak zoom yang lebih panjang.

Semua lensa kamera memberikan hasil tertajamnya pada aperture di tengah rentang zoom, sehingga pada lensa dengan aperture maksimal f/2.8, anda akan mencapai sweet spot ketika melakukan perekaman pada f/5.6, tapi anda akan harus merekam pada f/8 atau bahkan f/11 pada lensa zoom standard sederhana untuk memperoleh hasil paling tajam. Tidak perlu juga membatasi pada aperture maksimal f/2.8 ketika memilih lensa standard. Lensa Sigma baru 18-35mm f/1.8 untuk kamera APS-C tidak memilik rentang zoom lebar, tapi aperture maksimal f/1.8-nya satu stop lebih cepat daripada lensa f/2.8.

Namun, fleksibelitas pencahayaan rendah ini juga tidak murah. Untuk mendapatkan aperture lebar dengan harga lebih terjangkau, cobalah mempertimbangkan lensa kamera dengan focal length tetap (lensa prime atau disebut juga lensa fix) ketimbang lensa zoom. Lensa standard yang lebih terjangkau ini menawarkan aperture maksimal f/1.8. Kalau kantong anda lebih dalam, ada pula versi f/1.4 untuk lensa prime, yang memberikan keunggulan hampir satu stop, dan juga potensial untuk depth of field lebih sempit lagi.

lensa kamera standard

Red sunset by Sergey Zhupanenko

Walaupun focal length tetap dari lensa prime menandakan bahwa lensa tidak sefleksibel lensa zoom, tapi lensa kamera ini bisa membantu melatih keterampilan komposisi. Anda tidak dapat mengubah jarak fokus, sehingga harus mengubah titik pandang dan jarak untuk mengubah besarnya objek yang akan ditampilkan dalam frame, dan juga seberapa banyak bagian pemandangan yang ingin dimasukkan.

Lensa Kamera: telefoto pendek

Ketika tidak bisa berada cukup dekat untuk mengisi frame, atau sangat ingin bereksperimen dengan efek depth of field sempit, lensa telefoto pendek memberikan solusinya. Ada banyak opsi tersedia dalam berbagai tingkat harga. Seperti lensa zoom standard, ada dua tipe lensa zoom telefoto yang dijual di pasaran. Model lebih murah seperti lensa 70-300mm untuk full frame, 55-250mm untuk APS-C, atau 45-150mm untuk Micro Four Third, tapi lensa ini umumnya memiliki aperture maksimal f/5.6. Kalau bisa menyisihkan anggaran lebih untuk lensa lebih cepat, seperti lensa 70-200mm f/2.8 untuk full frame dan APS-C, atau 40-150mm f/2.8 untuk Micro Four Thirds, pemotretan pada kondisi cahaya rendah atau memperoleh depth of field sempit akan lebih mudah.

Lensa-lensa aperture lebar ini memudahkan mencapai shutter speed lebih cepat, yang penting untuk membekukan objek bergerak seperti olah raga dan wildlife. Ketika merekam objek statis, anda mungkin menginginkan lensa telefoto dengan sistem penstabil yang memungkinkan anda memegang kamera pada shutter speed lebih rendah tanpa menghasilkan guncangan kamera. Lensa zoom telefoto aperture lebar fleksibel, tapi juga besar dan berat. Alternatifnya, lensa telefoto prime, seperti lensa 85mm untuk kamera full frame. Dengan aperture maksimal lebar f/1.8 atau f/1.4, lensa klasik ini sempurna untuk merekam portrait depth of field sempit.

Menggunakan lensa kamera pada aperture maksimalnya selalu akan mengorbankan kualitas foto. Bahkan lensa terbaikpun akan memberikan foto yang lebih halus pada aperture terlebarnya, terutama di bagian tepi frame. Foto juga akan mengalami vignetting lebih buruk daripada dengan aperture sempit.

Kelemahan teknis ini sebenarnya bisa dimamfaatkan. Misalnya ketika merekam portrait, dimana kita ingin menarik perhatian pada mata objek, yang biasanya berada di tengah frame. Bagian tepi yang lebih halus dan vignetting bisa membantu mencapai tujuan tersebut.

Lensa telefoto panjang/super zoom

Lensa telefoto berjarak fokus lebih pendek pas untuk berbagai kebutuhan, tapi kalau ingin memotret close up satwa bebas atau sport, anda harus melihat pada lensa dengan focal length 400mm atau lebih panjang. Lensa telefoto super ini menghasilkan depth of field sangat sempit, sehingga pemfokusan harus akurat untuk memperoleh hasil tajam. Anda akan mendapati bahwa titik fokus tengah pada kebanyakan SLR memberikan hasil lebih konsisten dan akurat dengan lensa super zoom daripada bagian tepinya. Untuk pemfokusan akurat, anda perlu berlatih memposisikan titik AF di atas objek.

lensa kamera telefoto

Got breakfast by Hidetoshi Kikuchi

Untuk menghindari lensa mencari ke seluruh rentang fokus, lensa berjarak fokus panjang biasanya memiliki tombol atau tuas di sisinya untuk memilih rentang jarak yang akan digunakan. Tuas pembatas fokus umumnya memiliki tiga opsi: full, close dan far. Selain memfokuskan dengan akurat, tantangan utamanya adalah menghindari guncangan kamera. Banyak model yang dilengkapi dengan image stabilizer, tapi cara terbaik adalah dengan shutter speed cepat. Shutter speed cepat setidaknya 1/jarak fokus lensa equivalen, sehingga jika merekam dengan lensa 500mm pada kamera full frame, anda perlu 1/500 detik atau lebih cepat. Pada APS-C, yang dimaksud dengan shutter speed cepat ini 1/750 detik atau lebih cepat.

Ukuran, berat dan perbesarannya membuat memotret dengan handheld menjadi lebih sulit, tapi ini bisa jadi cara paling mudah untuk menggunakannya ketika merekam objek yang bergerak cepat. Untuk hasil tajam, gunakan shutter speed sangat cepat seperti 1/2000 detik, yang butuh ISO tinggi, bahkan pada kondisi terang. Bebankan berat lensa dan kamera dengan tangan kiri di bawah lensa dan menghadap ke depan. Jangan mempertahankan kamera dalam posisi terlalu lama karena akan menjadi tidak stabil. Letakkan di samping, sampai aksi dimulai.

Lensa makro

Lensa makro akan membawa anda lebih dekat dengan objek kecil tanpa harus menggunakan lensa close-up screew-in atau menambahkan tabung ekstensi di antara lensa dan kamera. Lensa makro yang sesungguhnya menyediakan kemampuan merekam pada rasio reproduksi 1:1 untuk close-up mengagumkan, tapi juga bisa digunakan sebagai lensa normal untuk objek yang lebih jauh.

Kalau rasio reproduksi maksimal dari lensa makro yang berbeda adalah sama, anda perlu mempertimbangkan jarak fokus ketika melihat pada tiap lensa makro. Jarak fokus ini mempengaruhi jarak pemotretan, yaitu harus sedekat apa anda dengan objek untuk mencapai rasio yang diberikan. Jarak ini bisa penting untuk objek seperti serangga, dimana anda ingin berada sejauh mungkin agar objek tidak terganggu. Dengan berada dalam jarak lebih jauh, akan lebih mudah untuk menambahkan flash atau reflektor untuk menerangi objek makro.

Semakin tinggi rasio reproduksi, semakin sempit depth of field yang dihasilkan, sehingga pemfokusan dan pemilihan aperture sangat penting untuk mendapatkan hasil terbaik. Untuk perbesaran lebih rendah, gunakan autofocus (AF), tapi jika memotret pada rasio 1:4 atau lebih dekat, anda akan mendapati bahwa pemfokusan manual adalah metode paling akurat.

Lensa-lensa seru

Tidak semua lensa kamera menerapkan prinsip standard dari focal length dan desain. Bersenang-senanglah menciptakan efek istimewa dengan lensa-lensa khusus ini dan teknik kreatif.

Lensa fisheye – Tidak seperti lensa wide angle biasa, lensa fisheye didesain untuk menghasilkan foto yang terdistorsi. Terdapat dua tipe, circular dan full frame. Circular fisheye menghasilkan foto bundar dengan area tepi hitam. Full frame fisheye memberi foto diseluruh area sensor, tapi sangat terdistorsi. Foto yang sangat terdistorsi ini menarik dan unik, cocok untuk memotret objek grafis dan kuat.

Lensa tilt-shift – Didesain untuk mengoreksi garis-garis vertikal yang mengumpul ke satu titik dan mencapai depth of field lebih luas, tapi juga bisa digunakan untuk menciptakan depth of field yang sangat sempit atau efek ‘kota mainan’. Efek ini didapat dengan menggunakan pengatur kemiringan pada lensa untuk menaikkan bidang fokus sehingga hanya sedikit bagian saja yang terlihat tajam. Efek ini mudah dicapai dari titik pandang tinggi (high level), dengan kamera mengarah ke bawah, kemudian lensa diarahkan ke atas.

Free-lensing – Lebih merupakan teknik daripada lensa, free lensing merupakan cara low-tech untuk mendapatkan tampilan tilt shift ‘kota mainan’. Cukup dengan memegang lensa di depan kamera (tanpa dipasangkan pada kamera) dan menggerakkannya untuk mendapatkan bagian kecil objek yang terfokus. Cara ini paling mudah dilakukan dengan lensa fokus manual tua ketimbang autofocus. Free lensing ini membutuhkan eksperimen karena mengandalkan kestabilan dan ketepatan waktu sempurna untuk memperoleh fokus dengan benar.

Pinhole – Membuat foto menggunakan lubang kecil, bukan lensa kamera. Pinhole harus sangat kecil (sekitar 0,2 mm) dan berbentuk lingkaran sempurna. Anda bisa membuat sendiri dengan melubangi lempeng logam, pasang di body cap. Pinhole kecil menandakan aperture efektifnya sekitar f/150, sehingga akan diperlukan shutter speed panjang dan tripod, dan bereksperimen dengan exposure.

Demikianlah pemahaman tentang lensa dan tips-tips mengoptimalkan lensa kamera dan selamat bereksperimen untuk mendapatkan efek-efek unik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *